infosawit

Lewat Koperasi Sawit, Manfaat Berlipat



Lewat Koperasi Sawit, Manfaat Berlipat

InfoSAWIT, JAKARTA - Terlepas dari masalah administrasi, program kemitraan sebelumnya yang dinyatakan berhasil (PIR-Bun, PIR-Trans dan KKPA), tidak terlepas dari pola kemitraan yang dibangun antara petani lewat lembaga Koperasi Unit Desa (KUD) yang bermitra dengan perusahaan perkebunan selaku penjamin kredit dalam proses pembiayaan perkebunan di perbankan.

Namun dalam berjalannya waktu, terkadang tidak semua kerjasama antara masyarakat petani lewat KUD dengan perusahaan berjalan mulus, lantaran lembaga KUD selaku perwakilan petani banyak juga yang menemui kebangkrutan (gagal).

Biasanya ini diakibatkan oleh para pengurus KUD yang menyalahgunakan wewenang jabatannya, sehingga roda ekonomi KUD menjadi tersendat dan barakhir pada menumpuknya hutang, atau pembayaran tandan buah segar (TBS) petani tidak tersalurkan dengan baik. Ini biasanya akibat munculnya sifat konsumtif dari para pengurus KUD.

Sebab itu kepengurusan KUD harus diperkuat dan diisi oleh orangorang yang memiliki kompetensi dalam mengembangkan roda ekonomi KUD, sehingga cita-cita untuk mendapatkan penghasilan lebih baik bisa tercapai.

Kegagalan atau bangkrutnya KUD ini biasanya diakibatkan pengelolaan KUD dilakukan  dengan tidak baik. Banyak kasus pengelolaan KUD yang tidak transparan, mendorong lembaga itu pun dibubarkan, lantaran petani tidak lagi percaya terhadap para pengurus KUD.

Sebenarnya bukan salah kelembagaan KUD nya, namun akibat oknum masyarakat yang menyalahgunakan wewenang yang sudah diamanatkan dari para anggota. Akibatnya bukan untung diraih malah rugi miliaran rupiah.

Mencontoh KUD Berkat Ridho yang berlokasi di Kampar, Riau, KUD tersebut harus mengalami kegagalan di tahun 2008, padahal telah dibentuk semenjak 1998 silam.

Kegagalan tersebut akibat ulah segelintir oknum pengurus KUD yang memanfaatkan aset KUD untuk kepentingan pribadi. “Pengurus KUD melakukan perjanjian hutang dengan beberapa Bank untuk kepentingan pribadi, dengan aset KUD sebagai jaminannya,” kata Zulkifli Ritonga yang kala itu menjabat Ketua KUD Berkat Ridho.

Untungnya, para anggota KUD yang berjumlah sebanyak 350 petani itu, berinisiatif menyelamatkan KUD. Upaya penyelamatan KUD pun akhirnya bisa dilakukan, dan kembali menjalin kemitraan dengan perusahaan perkebunan di wilayah tersebut.

Nampaknya kasus serupa, banyak pula dialami oleh petani sawit diberbagai sentra perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Misalnya yang terjadi di Desa Pematang tinggi, Kecamatan Krukut Kabupaten Pelalawan.

Di desa berpenduduk 1.839 jiwa itu, pernah pula mengalami masa kelam, tatkala KUD yang dibangunnya harus berhadapan dengan kegagalan operasional. Akhirnya, warga sepakat untuk membubarkan KUD tersebut.

Padahal KUD menjadi lembaga strategis petani dalam menjalin kemitraan dengan perusahaan perkebunan. Kendati dikemudian hari masyarakat kembali membangun kembali KUD, dan dinamai KUD Amanah dan bermitra dengan perusahaan perkebunan. (T2)

 

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit