infosawit

Munas X GAPKI: Asosiasi Sawit Kembali di Nahkodai Joko Supriyono



Munas X GAPKI: Asosiasi Sawit Kembali di Nahkodai Joko Supriyono

InfoSAWIT, JAKARTA – Musyawarah Nasional (Munas) X Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang diselenggarakan pada 14-16 Maret 2018,  di Jakarta pada malam Jumat 16/3/2018 resmi ditutup.

Seperti pada Munas sebelumnya, hari terakhir adalah ajang pemilihan formatur untuk kepengurusan GAPKI selanjutnya, dimana pada Munas kali ini ada perbedaan yang mendasar yakni kepengurusan GAPKI tidak lagi 3 tahun seperti pada biasanya, namun diperpanjang menjadi lima tahun kepengurusan. Alasan perubahan masa kepengurusan ini adalah untuk memaksimalkan penerapan program sawit yang dimiliki pengurus terpilih.

Dalam pemilihan formatur pengurus GAPKI periode 2018-2023, tercatat lumayan alot lantaran dilakukan dua kali pemilihan. Dalam pemilihan pertama di dapat 7 formatur nama yakni Joko Supriyono, Mustafa Daulay, Kacuk Sumarto, Eddy Martono, Susanto, Fadhil Hasan dan  Alexander Maha.

Dari ketujuh formatur tersebut lantas dilakukan pemilihan untuk melanjutkan pada sesi berikutnya, dan terpilih 5 formatur yakni Joko Supriyono peroleha suara 769, lantas disusul Mustafa Daulay dengan 346 suara, Kacuk Sumarto 345 suara, Eddy Martono 274 suara dan Susanto sebanyak 270 suara.

Dalam lobi-lobi yang dilakukan untuk pemilihan formatur selanjutnya, disepakati formatur lainnya selain Joko Supriyono sepakat untuk tidak melanjutkan pemilihan, maka secara otomatis suara terbanyak yakni Joko Supriyono sebagai ketua formatur, dengan demikian maka Joko kembali menjadi Ketua Umum GAPKI.

Dalam sambutannya usai Munas X GAPKI yang dihadiri InfoSAWIT, Joko menggarisbawahi besarnya dukungan pemerintah terhadap industri kelapa sawit Indonesia. Karena itu Joko menegaskan Gapki akan terus bekerja sama dengan pemerintah dalam memajukan sektor kelapa sawit nasional.

Kerja sama atau partnership dengan pemerintah semakin perlu dilakukan mengingat tujuan dan tantangan ke depan. Partnership dengan pemerintah perlu dilakukan, menurutnya, pertama untuk memperkuat pasar ekspor kelapa sawit. Pasar ekspor harus terus diperluas dan diversifikasi. "Ketika bicara perluasan pasar dan penanganan hambatan pasar pasti harus G to G, maka perlu kerja sama dengan pemerintah," katanya.

Selain kerja sama dengan pemerintah, Joko juga menekankan bahwa program GAPKI ke depan yang sangat penting adalah peningkatan produktivitas perkebunan rakyat. Seperti disampaikan saat pembukaan Munas, GAPKI komitmen dengan peningkatan produktivitas perkebunan rakyat. "Jadi, ini dua program spesifik untuk lima tahun ke depan, yaitu memperbaiki iklim usaha dalam negeri dan mengamankan pasar ekspor luar negeri,” tandas dia. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit