infosawit

Minyak Sawit Untuk Feedstock Industri Fuel Dan Bahan Kimia



Minyak Sawit Untuk Feedstock Industri Fuel Dan Bahan Kimia

InfoSAWIT, JAKARTA - Setelah sebelumnya bahan berbasis bio tergeser perannya oleh bahan baku berbasis minyak bumi/gas, kini saatnya kembali ke masa lampau dengan mendorong penggunaan bahan berbasis renewable, salah satunya penggunaan sawit untuk industri fuel dan kimia.

Trigliserida atau minyak/lemak yang berasal dari tumbuhan dan hewan merupakan bahan baku utama industri kimia organik sampai dengan awal abad 20. Tetapi perkembangan teknologi eksploitasi pertambangan dan processing telah mendorong pertumbuhan industri kimia organik dengan berbagai produk yang tak terbayangkan pada masa sebelumnya, lewat penggunaan bahan baku minyak bumi/gas alam dan menggeser penggunaan bahan berbasis bio. Alhasil minyak/lemak nabati dan hewani menjadi terbatas hanya untuk makanan, sabun dan sedikit untuk beberapa industri seperti drying oil.

Sementara itu pertumbuhan konsumsi terhadap berbagai sumber daya termasuk sumber fosil juga akan tetap terus meningkat dan diperkirakan tidak akan berkurang dalam beberapa puluh tahun mendatang dengan pertumbuhan tinggi ekonomi/kesejahteraan yang tinggi terutama didorong Asia dan khususnya China dan India.

Tetapi dalam beberapa decade terakhir industri kembali menggunakan bahan baku “natural”, sehingga penggunaan minyak dan lemak untuk industri meningkat. Perubahan perilaku industri tersebut, kalau diperhatikan dipicu oleh krisis energi tahun 70’an yang mendorong kesadaran tentang keamanan penyediaan sumberdaya yang berbasis bahan tak terbarukan. Berbagai dinamika sosial yang terjadi, juga mendorong perubahan pola hidup manusia yang dimulai di Barat, merubah pula industri untuk pemenuhan kebutuhannya. Kesadaran lingkungan dan kesehatan yang menguat, memunculkan pula kebutuhan akan green product.

Dinamika perubahan industri berbasis minyak/lemak (natural) dan minyak bumi/gas alam (sintetis) tercermin dalam penggunaan bahan baku surfactant yang pada abad 20 bersumber hanya dari minyak/lemak. Perkembangan produk sintetis berlangsung sangat lambat pada awalnya, namun dengan kematangan teknologi industri berbasis petro, akselerasi pertumbuhan terjadi dengan cepat. Namun, sejak tahun 70 an arus balik terjadi.

Namun, perkembangan yang menjanjikan bagi industri minyak/lemak nabati terutama sawit tersebut menghadapi tantangan yang besar pada masa mendatang. Kelangkaan sumberdaya minyak bumi/gas alam yang diprediksi akan habis dalam ~50 tahun kedepan, mendapatkan sumber lain seperti yaitu shale oil/gas yang telah dapat dieksploitasi dan oil shale yang belum dieksploitasi. Keberadaan shale oil dengan cadangan yang sangat besar terutama di USA yang mencapai ~ 2 milyar barrel melebihi cadangan konvensional seluruh dunia (1,4 miliar barel) tentu akan mempengaruhi perkembangan industri baik dari sisi penyediaan energi maupun bahan bakunya.

Terlebih perkembangan  penyediaan gas alam yang merupakan bahan baku penting dalam industri.  Ketersediaan teknologi memacu pertumbuhan cadangan, tingkat produksi  dan ongkos produksinya gas alam USA. Produksi USA sebagai produsen nomer  satu dunia telah mencapai 25,271 TCF pada tahun 2015 yang merupakan 19,8% total produksi dunia, dengan harga gas yang sangat rendah. USA memiliki cadangan terbukti 308 TCF dan total potensial cadangan 2.276 [US Energy Information Adm, 2015].  Sementara harga gas alam USA sudah mulai lebih rendah sejak tahun 2010. USA juga bukan merupakan satu-satunya negara yang memiliki cadangan shale gas, diperkirakan ada 3 negara lain yang memiliki cadangan lebih besar dengan China memiliki besaran hampir 2 kali USA.  (Indra Budi Susetyo/Peneliti BPPT)

Sumber: InfoSAWIT Edisi Februari 2016

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit