infosawit

Menghitung Jejak Karbon Produksi Kelapa Sawit



Menghitung Jejak Karbon Produksi Kelapa Sawit

InfoSAWIT, NUSA DUA – Pencarian solusi dari masalah keberlanjutan produk sawit menjadi tanggung jawab bersama. Jejak karbon penting diketahui agar dapat mengetahui seberapa besar dampak yang ditimbulkan produksi kelapa sawit.

“Kita sadar kaitan sawit dengan emisi,” kata Director Global Environment Centre, Faizal Parish dalam konferensi International Conference Oil Palm and Environment (ICOPE) 2018 di Bali, belum lama  ini yang dihadiri InfoSAWIT.

Emisi berasal dari lahan dan operasinya. Pada 2017, RSPO P&C pernah mengulas, merevisi dan membuat kriteria baru untuk menekan emisi gas kaca (GHG) dari lahan perkebunan yang akan dibuka. Dari dua persyaratan yang ditetapkan ada sistem uji coba untuk mendapatkan umpan balik.

“Sekarang sudah dalam tahap pelaporan publik dari anggota RSPO untuk mendapatkan emisi. Penghitungan efek rumah kaca menggunakan alat monitor emisi, PlamGHG Calculator yang telah dikembangkan RSPO P&C,” jelas Faizal.

Dari hasil pengukuran ada beberapa kriteria yang didapat. Salah satunya kriteria 7.8 yang menyarankan perkebunan baru mengikuti prosedur penanaman. Anggota RSPO harus menilai cara meminimalisir efek rumah kaca. Cara paling efektif untuk menekan biaya reduksi emisi rumah kaca antara lain menghindari pembangunan di wilayah hutan gambut, pupuk anorganik, serta mengompos EFBB dan PME. “Kuncinya adalah menghindari pembangunan di lahan gambut,” tegas Faizal.

Dia menyebutkan ada prosedur penilaian GHG untuk pengembangan lahan baru. Dari penggunaan lahan ini ada beberapa pilihan, yaitu mengembangkan wilayah selain gambut atau fokus pada tanah mineral. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit