infosawit

Urai Hambatan Ekspor, Perundingan Dagang Turki – Indonesia Masuk Tahap Kedua



Urai Hambatan Ekspor, Perundingan Dagang Turki – Indonesia Masuk Tahap Kedua

InfoSAWIT, ANKARA– Merujuk informasi dari Kementerian Perdagangan,  total perdagangan Indonesia - Turki pada tahun 2017 mencapai US$ 1,7 miliar. Turki merupakan negara tujuan ekspor non-migas ke-28 bagi Indonesia. Pada tahun 2017, nilai ekspor Indonesia ke Turki mencapai US$ 1,2 miliar. Produk ekspor utama adalah karet, tekstil, dan minyak kelapa sawit. Sedangkan, Turki merupakan negara asal impor non-migas ke-33 bagi Indonesia. Pada tahun 2017, total impor Indonesia dari Turki sebesar US$ 534,1 juta dengan produk utama, seperti, besi baja, tembakau, produk kimia, dan katun. Sementara itu, nilai investasi Turki di Indonesia mencapai US$ 1,5 juta.

Sebab itu perundingan dagang kedua negara menjadi sangat penting, terlebih perundingan Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement(IT-CEPA) telah memasuki tahap kedua. Perundingan yang berlangsung pada 28—30 Mei 2018 di Ankara, Turki ini merupakan salah satu upaya Indonesia meningkatkan ekspor ke Turki.

Direktur Perundingan Bilateral, Kementerian Perdagangan, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan, perundingan IT-CEPA dilakukan secara bertahap. Artinya, perundingan dimulai dengan perdagangan barang (trade in goods), kemudian dilanjutkan dengan bahasan lain, seperti, jasa dan investasi. Pada putaran ini, kedua negara akan merundingkan isu perdagangan barang dari aspek kepentingan akses pasar barang. Selain itu, perundingan juga mengenai ketentuan perdagangan barang, seperti, peraturan asal barang, fasilitas perdagangan dan bea cukai, perbaikan perdagangan, hambatan teknis perdagangan, sanitasi dan fitosanitasi, serta masalah hukum.

Selanjutnya pada putaran kedua ini, Indonesia dan Turki akan memfinalisasi kerangka acuan (TOR) perundingan, modalitas akses pasar, dan pembahasan teks perjanjian. Modalitas perundingan akses pasar merefleksikan komitmen, cakupan isu runding, dan tingkat liberalisasi yang akan disepakati.

Lebih lanjut Made menyatakan, salah satu tujuan perundingan adalah mengeliminasi hambatan perdagangan, baik tarif maupun non-tarif. Hal ini bertujuan agar produk Indonesia memiliki level yang sama dengan negara pesaing. “Hambatan perdagangan tersebut diyakini mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia ke Turki yang mengalami penurunan secara substansial dalam kurun waktu lima tahun terakhir,” terang Made dalam keterangan resmi yang diterima InfoSAWIT belum lama ini.

Sekadar infomasi, Turki merupakan salah satu negara yang paling aktif melakukan perundingan perjanjian perdagangan bebas (FTA). Negara ini telah melakukan 21 perjanjian yang telah diimplementasikan dan 10 perjanjian masih dalam proses perundingan. ”Produk Indonesia akan mengalami kesulitan bersaing di pasar Turki apabila masih menghadapi tarif tinggi dan kebijakan antidumping atau safeguardTurki,” ungkapnya. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit