infosawit

PETANI BERSAMA PERUSAHAAN, BANGUN KEBUN SAWIT



PETANI BERSAMA PERUSAHAAN, BANGUN KEBUN SAWIT

Masyarakat Pulau Bangka terkenal dengan keramahtamahannya. Sifat rendah hati warga Negeri Serumpun Sebalai membuat kita merasa dihormati hingga akhirnya betah berlama-lama. Maka, wajar rasanya siapa saja yang bertandang ke pulau ini dijamin pasti balik lagi dan lagi. Tradisi budaya daerah yang diwariskan leluhurnya saling menguatkan ikatan kekeluargaan warga Pulau Bangka. Dan salah satu wejangan yang diberikan para nenek moyangnya ialah hidup sederhana dan apa adanya. Ini yang semakin mengokohkan jati diri warga Pulau Bangka jauh dari hutang.

Pulau Bangka dikenal sebagai daerah dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang sangat potensial. Sebut saja lada (sahang), karet, sawit dan timah. Diyakini saat ini, timah dan sawit menjadi primadona penopang pertumbuhan ekonomi masyarakat Bangka.

Tidak dapat dipungkiri luasnya areal lahan pertambangan timah yang tersebar di pulau ini, memancing masyarakat setempat untuk melakukan penambangan liar secara bergerilya. Tak hanya menambang di areal terbuka atau memanfaatkan lahan bekas penambangan sebelumnya, tak ayal mereka juga melakukan pola penambangan tradisional yang mengakibatkan banyak kerusakan alam sekitarnya termasuk lahan perkebunan. Fenomena penambangan timah yang semakin marak dilakukan menjadi tantangan bagi industri lainnya, termasuk perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di wilayah tersebut.

Tempilang Tempo Dulu

Seperti yang dituturkan oleh haji Imron Harmi (58 tahun). Ia merupakan salah satu saksi hidup yang terlibat bersama-sama PT Sawindo Kencana membangun perkebunan kelapa sawit milik masyarakat. Bersama-sama dengan masyarakat, dirinya ikut bergabung dalam KUD Bina Tani Sejahtera (BTS) yang menjadi mitra perusahaan.

Boleh dikata masyarakat kami memang sangat takut untuk berhutang. Bisa dikata saking takutnya berhutang, dulu pedagang ikan menjual dagangannya 5 kilogram saja tidak laku. Ini dikarenakan ekonomi masyarakat pada waktu itu memang masih sangat lemah. Keinginan untuk membeli ikan pasti ada, namun kemampuan untuk membayar menjadi kendala. Padahal jika berpikir dengan logika yang baik, ikan bisa diperoleh dengan mekanisme pembayaran secara berkala. Namun, budaya takut berhutang, menjadikan masyarakat memilih untuk hidup apa adanya. Sehingga keberadaan ekonomi masyarakat relatif tidak banyak mengalami perubahan.

Dalam kesehariannya, kegiatan ekonomi sebagian besar mas . . .  .


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit