infosawit

Saat Harga Sawit Melemah, Permintaan Sejumlah Negara Naik



Saat Harga Sawit Melemah, Permintaan Sejumlah Negara Naik

InfoSAWIT, JAKARTA - Pelemahan harga minyak sawit akibat melimpahnya stok mulai dimanfaatkan untuk meningkatkan permintaan, misalnya dilakukan Pakistan, yang pada Mei 2018 impor minyak sawit Pakistan tercatat naik 29% padahal 3 bulan sebelumnya impor tercatat stagnan.

“Naiknya volume ekspor di Pakistan karena harga minyak sawit yang sedang murah sehingga para traders memanfaatkan kesempatan untuk menggendutkan stok minyak sawitnya,” tutur Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Senin (10/7/2018).

Peningkatan volume ekspor juga diikuti negara tujuan ekspor di Afrika yang tercatat naik sekitar 29,5% atau dari 176,64 ribu ton di April terdingkrak menjadi 228,75 ribu ton di Mei. Ini adalah volume tertinggi sepanjang tahun 2018.

Disaat AS dan China yang sedang berseteru tercatat impor minyak sawitnya pada Mei ini ikut meningkat misalnya permintaan dari China melonjak 6% dan permintaan minay sawit ke AS naik sebanyak 18%.

Pada sisi lain, turunnya harga tidak mampu menarik pembeli dari India untuk menimbun stok minyak sawit. Sejak tarif bea masuk yang tinggi untuk minyak sawit permintaan India mengalami kelesuan dan sudah pada tahap akut. Pada Mei ini, India mencatatkan penurunan impor CPO dan turunannya sebesar 31% atau 346,28 ribu ton turun merosot menjadi 240,16 ribu ton. Pasar India yang sudah tergerus lebih dari 50% dari sejak awal tahun yang juga turut berkontribusi menyebabkan stock minyak sawit di Indonesia dan Malaysia menjadi tinggi karena susutnya pembelian yang sangat signifikan.

Sementara ekspor minyak sawit ke Uni Eropa dipastikan menurun karena melimpahnya produksi minyak bunga matahari dan rapeseed. Sepanjang Mei Uni Eropa membukukan penurunan impor sebesar 7% atau dari 385,10 ribu ton di April menyusut menjadi 359,31 ribu ton di Mei.

Adanya situasi ini pihak GAPKI berharap  pemerintah Indonesia mulai memberikan perhatian khusus kepada industri minyak sawit untuk menjaga agar harga minyak sawit tidak terus merosot. Pemerintah sudah saatnya membuat kebijakan untuk meningkatkan konsumsi di dalam negeri dengan menggalakan penggunaan biodiesel yang lebih banyak, mandatori Biodiesel sudah waktunya diterapkan kepada non-PSO untuk mendongkrak konsumsi di dalam negeri. “Jika konsumsi di dalam negeri tinggi maka stok akan terjaga sehingga harga di pasar global tidak anjlok karena stok yang melimpah,” kata Mukti.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah mulai fokus pada pasar Afrika yang memiliki potensi besar akan tetapi infrastruktur masih minim. Kata Mukti, pemerintah dapat membuat kebijakan seperti menurunkan tarif ekspor minyak goreng kemasan ke negera Afrika. “Afrika tidak dapat membeli minyak dalam bentuk curah yang harganya lebih murah daripada kemasan karena tidak memiliki infrastruktur tangki timbun,” tandas Mukti. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit