infosawit

Kolaborasi Tiga Lembaga Hasilkan Solusi Sawit



Kolaborasi Tiga Lembaga Hasilkan Solusi Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Sejatinya pada era 1970-an Indonesia baru mulai menjadikan minyak kelapa sawit sebagai sumber utama pendapatan devisa. Kendati terlambat mengembangkan perkebunan kelapa sawit secara komersial dari Negeri Jiran, namun hanya dalam waktu singkat Indonesia mampu menjadi produsen minyak sawit nomor wahid di dunia, dan menyusul Malaysia yang sebelumnya kerap mendominasi sebagai produsen minyak sawit di dunia.

Kini setelah satu dekade lebih menjadi produsen utama minyak sawit, pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia semakin pesat. Secara fakta pengelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia dibagi dalam tinga kelompok, yakni  perkebunan kelapa sawit yang dikelola pelaku swasta besar, perkebunan kelapa sawit milik pemerintah dan perkebunan kelapa sawit yang dikelola masyarakat.

Dari ketiga kelompok pengelola tersebut, produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 2017 lalu telah mampu menembus 41,98 juta ton, dimana produksi minyak sawit mentah (CPO) sebanyak  38,17 juta ton dan produksi minyak inti sawit (PKO) sejumlah 3,05 juta ton.

Angka ini menunjukkan peningkatan produksi sekitar 18% jika dibandingkan dengan produksi tahun 2016 yang hanya mampu mencapai 35,57 juta ton, dimana produksi  CPO sekitar 32,52 juta ton dan produksi PKO 3,05 juta ton.

Sebelumnya produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan bakal mampu menembus angka 40 juta ton pada tahun 2020, namun kurang dari 3 tahun Indonesia justru telah mampu memenuhi angka keramat tersebut.

Namun dibalik kesuksesan pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, masih ada bayangan hitam yang kerap mengikuti, yakni isu negatif yang acap menuding pengembangan perkebunan kelapa sawit berasal dari merusak hutan dan menghilangkan habitat hewan dilindungi. Tidak sedikit pula penduduk lokal ditengarai tersisihkan akibat pengembangan perkebunan kelapa sawit. Entah benar atau tidak sebab itu butuh riset yang lebih mendalam.

Maka itu tiga lembaga penting, yakni lembaga penelitian agrikultur asal Perancis , CIRAD, Lembaga Swadaya Masyarakat yang fokus pada konservasi, WWF Indonesia serta pelaku perkebunan kelapa sawit Golden Agri-Resources (GAR), sepakat mengadalan Seminar Internasional Kelapa Sawit dan Lingkungan (ICOPE). Sebuah pertemuan dua tahunan yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan perkebunan kelapa sawit untuk mencari solusi terbaik dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit tanpa harus merusak hutan, menghilangkan habitat dilidungi dan mengganggu masyarakat lokal.

Beragam penelitian itu dilakukan oleh lembaga-lembaga riset dunia, maupun lembaga riset dari perusahaan perkebunan untuk berbagi infromasi dan memberikan masukan bagi pengembangan perkebunan kelapa sawit yang layak lingkungan dan sosial. Untuk mengetahui apa saja hasil riset da kebijakan apa yang dibahas dalam acara tersebut, bisa dibaca secara lengkap pada InfoSAWIT edisi Juni 2018. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit