infosawit

Sawit Bukan Penyebab Deforestasi



Sawit Bukan Penyebab Deforestasi

InfoSAWIT, JAKARTA - Adanya tudingan kepada minyak sawit yang menyebutkan sebagai biang penyebab deforestasi global, termasuk Indonesia, sejatinya sudah terbantahkan dengan sendirinya. Luas perkebunan kelapa sawit di dunia jauh lebih sempit daripada luas lahan kebun kacang kedelai (soybean). Tingginya produktivitas panen dari perkebunan kelapa sawit menjadi faktor utama akan pengelolaan kebun sawit yang sustainable.

Perkebunan kelapa sawit dengan menerapkan prinsip dan kriteria sustainability, juga mendapatkan dukungan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui United Nation Development Programme (UNDP), program Good Growth Green Comodity Project pun dilaksanakan dengan tujuan, membantu meningkatkan pemberdayaan dan produktivitas petani kelapa sawit.

Menurut Managing Director Good Growth Green Comodity, UNDP, Pascale Bonzom, berbagai upaya dilakukan dalam pemberdayaan petani kelapa sawit di Indonesia. Hal ini harus dibantu supaya dapat meningkatkan produktivitas panennya. Sebab itu, penerapan budidaya terbaik dan berkelanjutan harus terus dilakukan.

Keterlibatan PBB melalui UNDP, menurutnya, juga bagian dari tugas besarnya untuk memastikan kesejahteraan hidup bagi petani kecil. “Kami membantu masyarakat, terutama petani kecil kelapa sawit, yang masih membutuhkan banyak bantuan dan pendampingan, supaya lebih mengembangkan produk berkelanjutan di pasar global,“ tandas Pascale.

Mengenai adanya berbagai isu yang ditudingkan kepada perkebunan kelapa sawit, Pascale tidak terlalu merisaukan hal tersebut. Perkebunan kelapa sawit memang terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat terpencil. Terlebih, menerapkan prinsip dan kriteria sustainability akan mampu mengelola kebun sawit lebih baik dan ramah lingkungan.

Berdasarkan riset yang telah dilakukan UNDP, aktivitas peternakan sapi justru menyebabkan deforestasi hutan dan lahan lebih pesat di dunia. Peternakan sapi membutuhkan lahan seluas 1 hektar untuk melakukan budidaya ternak sapi. Aktifitas ternak sapi juga menyebabkan emisi gas karbon tinggi yang berasal dari kotorannya.

Tingginya emisi karbon yang dihasilkan, dan luasnya penggunaan lahan bagi peternakan sapi, menurut Pascale, menjadi hal utama akan penyebab deforestasi. Dapat disimpulkan secara ringkas bahwa perkebunan kelapa sawit bukan penyebab deforestasi, melainkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani kecil yang hidup di daerah pelosok.

Hal senada juga pernah diungkapkan aktivis lingkungan, Bustar Maitar, Menurutnya, perkebunan kelapa sawit telah secara nyata mengembangkan ekonomi bagi masyarakat Indonesia. Menurut mantan juru kampanye Greenpeace itu, praktek budidaya perkebunan kelapa sawit harus didorong supaya tidak terlibat dalam deforestasi hutan.

Menurutnya, pembangunan perkebunan kelapa sawit berlandaskan prinsip dan kriteria sustainability harus dilakukan secara transparan, sehingga proses traceability mampu menghasilkan produksi minyak sawit yang terpisah dari deforestasi hutan. “Perusahaan perkebunan kelapa sawit harus berani menyatakan, tidak melakukan deforestasi hutan kepada publik,” Bustar menegaskan.

Adanya komitmen akan pembangunan perkebunan kelapa sawit yang sustainable  juga menjadi kepentingan lingkungan di dunia. Sebab itu, komitmen tidak melakukan deforestasi hutan dan melakukan praktek budidaya sustainable menjadi solusi bersama dalam menjaga lingkungan (Baca: Himpitan Sustainability, Majalah InfoSAWIT edisi November 2015). (T1)

 

Artikel ini telah terbit pada Majalah InfoSAWIT Edisi Juni 2018

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit