infosawit

Permudah Perdagangan Minyak Sawit, Rusia Minta Indonesia Buka Kantor Perwakilan



Permudah Perdagangan Minyak Sawit, Rusia Minta Indonesia Buka Kantor Perwakilan

InfoSAWIT, MOSKOW – Disampaikan Direktur Eksekutif Fat and Oils Foods Producers and Consumers Association Rusia, Ekaterina A. Esterova, pemerintah dan pelaku usaha di Rusia mengharapkan Indonesia memiliki kantor perwakilan perdagangan minyak sawit di Moskow.

Ini dilakukan menyusul meningkatnya konsumsi minyak sawit di Rusia. Tercatat sekitar 80% minyak sawit yang digunakan di Rusia berasal dari Indonesia, sisanya dari Malaysia.

Lebih lanjut kata Esterova, minyak sawit merupakan subtitusi bagi kekurangan pasokan minyak bunga matahari. Tahun  2017 lalu, total konsumsi minyak sawit di Rusia mencapai sekitar 650 ribu ton dimana sebanyak 615 ribu di antaranya diimpor dari Indonesia.

"Karena harga yang lebih murah,  minyak sawit semakin diminati. Hanya saja, pertumbuhan konsumsi minyak sawit terhambat oleh kampanye negatif di sini," kata Esterova dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Jumat (10/8/2018).

Pihak Fat and Oils Foods Producers and Consumers Association Rusi, kabarnya bersedia membantu kampanye sawit di Rusia. Utamanya terkait tudingan kandungan transfat (lemak jenuh) yang memicu terjadnya penyakit jantung. Padahal diantara minyak nabati lainnya, minyak sawit yang paling sehat karena tidak mengandung transfat. "Jika ada representative office di Moskow, kita akan lebih mudah berkomunikasi," kata dia.

Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono yang memimpin Tim GAPKI dalam kunjungan ke Rusia menyambut baik usulan tersebut. "Akan kami sampaikan kepada pemerintah tentang perlu menjaga pasar Rusia ini," kata Joko.

Sementara itu pada kesempatan terpisah di Moskow,  Dr Zinaida Medvedeva, peneliti pada National Research Center Rusia menegaskan aspek kesehatan dari minyak sawit. Kata dia, minyak sawit merupakan pilihan yang paling tepat untuk menghindari asam lemak trans (trans-fatty acid atau biasa disebut transfat).  Transfat merupakan zat yang dihasilkan dari proses hidrogenisasi parsial untuk meningkatkan kepadatan suatu minyak dalam pembuatan minyak makan, dan berisiko tinggi menimbulkan penyakit kardiovaskuler.

"Otoritas pangan Amerika Serikat (FDA) sejak 2015 memberi waktu tiga tahun kepada industri makanan untuk menemukan pilihan lain untuk menghilangkan transfat dan melarang adanya transfat," kata Medvedeva.

Tutur Medvedeva, minyak makan sawit yang secara alamiah memiliki komposisi asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang, bersifat semi solid. Sehingga tidak memerlukan proses hidrogenisasi dalam penggunanya sebagai minyak  makan, sehingga asam lemak trans tidak terbentuk. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit