infosawit

Skim Sawit Berkelanjutan Butuh Kolaborasi Multi Pihak



Skim Sawit Berkelanjutan Butuh Kolaborasi Multi Pihak

InfoSAWIT, BALI - Dalam rangkaian diskusi International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) 2018 lalu di Nusa Dua, Bali, melalui salah satu sesi konferensi yang bertema Towards a global consensus on palm oil sustainability standards, dibicarakan secara komprehensif mengenai keberadaan sertifikasi sustainability, yang kini sedang dilakukan industri minyak sawit global termasuk Indonesia.

Direktur CIRAD Indonesia, Alain Rival menjelaskan adanya kebutuhan bersama mengenai sertifikasi kelapa sawit keberlanjutan yang dilakukan industri minyak sawit supaya dapat mengurangi kesenjangan antara berbagai standar yang dilakukan. Pentingnya kolaborasi, menjadi upaya bersama dalam bekerjasama membangun industri kelapa sawit, yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan.

“Sebab itulah, saya bertugas sebagai moderator, untuk membantu diskusi antara pemangku kepentingan industri minyak sawit, supaya bisa berkolaborasi dalam mewujudkan standar keberlanjutan kelapa sawit,”jelas Alain kepada InfoSAWIT, usai sesi diskusi.

Dalam diskusi tersebut, perwakilan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Michael Bucki, memberikan penilaian positif, terhadap keterlibatan multi pihak, yang mendorong terwujudnya konsensus global, akan standar keberlanjutan bagi kelapa sawit. Katanya, semakin banyak pihak yang terlibat dalam mewujudkan standar keberlanjutan, akan berdampak positif terhadap keberterimaan pasar Uni Eropa.

“Sertifikasi membutuhkan konsolidasi dengan pemerintah, juga membutuhkan legitimasi dari berbagai pihak seperti industri dan LSM. Sebab itu, dibutuhkan kolaborasi dan bukan kompetisi untuk saling menjatuhkan,”kata Michael Bucki, lebih lanjut,”Masih banyak ruang untuk bisa terus bertumbuh dan melakukan banyak perbaikan”.

Senada dengan para pemangku kepentingan lainnya, Direktur RSPO Indonesia, Tiur Rumondang, juga menilai, perlunya konsensus global mengenai sertifikasi keberlanjutan. Pentingnya melihat persamaan, dapat menjadi awalan, dalam melakukan pendekataan standar keberlanjutan yang digunakan dalam penerapan sertifikasi.

“Dengan pendekatan adanya persamaan, dapat menjadi tantangan untuk adanya kesamaan akan standar sertifikasi yang digunakan,”kata Tiur Rumondang menjelaskan kepada InfoSAWIT. (T1)

 

Artikel pernah terbit pada Majalah InfoSAWIT edisi Juni 2018

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit