infosawit

Perang Dagang AS-China, Dongkrak Permintaan Minyak Sawit ke China dan India



Perang Dagang AS-China, Dongkrak Permintaan Minyak Sawit ke China dan India

InfoSAWIT, JAKARTA - Pasar minyak nabati pada bulan Juli 2018 ini cukup menarik untuk dibahas. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China cukup mempengaruhi pasar.

Tidak puas berselisih dengan China, AS kembali mengalami perselisihan dagang dengan India, dimana AS menaikkan tarif impor yang lebih tinggi aluminium dan baja dari India. India merespon dengan mengajukan keberatan kepada WTO dengan menyertakan daftar produk yang akan menjadi subyek retaliasi dari pajak bea masuk. Daftar produk yang diajukan India antara lain gandum, minyak kedelai mentah dan refined palm olein.

Perang dagang China dan AS telah menyebabkan minyak kedelai jatuh di pasar global karena China mengurangi pembelian kedelai. Sementara itu India menahan pembelian minyak kedelai mentah dari AS.

India yang semula telah mengurangi pembelian minyak sawit dari Indonesia, pada Juli ini kembali menggenjot pembeliannya hingga mencapai 652,73 ribu ton. Ini merupakan pembelian tertinggi sepanjang tahun 2018.

Kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono, Bea Masuk yang tinggi sudah tidak menjadi faktor penghambat lagi karena pada awal Juli lalu, India juga menaikkan tarif bea masuk untuk kedelai, rapeseed, bunga matahari dan kacang tanah. “Harga yang lebih murah dan perselisihan dagang India dengan AS, serta kebutuhan di dalam negeri yang harus dipenuhi memacu India menggenjot pembelian minyak sawit dari Indonesia mencapai 40% lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” catat Mukti, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Selasa (28/8/2018).

Sementara untuk China, pada sepanjang Juli Negeri Tembok Raksasa ini membukukan impor minyak sawit (CPO, PKO dan produk turunannya) dari Indonesia naik sebesar 6%, atau dari 330,43 ribu ton pada Juni lalu meningkat menjadi 350,12 ribu ton di Juli. Hal yang cukup menarik dari Negeri Tirai Bambu selama dua bulan terakhir ini adalah pasar biodiesel yang mulai bergeliat. Menurut catatan GAPKI pada Juni lalu untuk pertama kalinya China membeli biodiesel berbasis sawit dari Indonesia sebesar 185 ribu ton. Pada Juli ini permintaan meningkat menjadi 210 ribu ton.

China mulai mempromosikan penggunaan biofuel dalam rangka mengurangi emisi. Sebelumnya pilot project, penggunaan biodiesel berbasis bioethanol di Shanghai telah dilaksanakan dan menjadi perangsang bagi daerah lainnya. Ke depan Pemerintah China mempunyai peluang besar untuk membuat regulasi penggunaan bahan bakar nabati menjadi mandatori.

Pasalnya bulan Mei lalu Menteri Perlindungan Lingkungan memberikan statement kepada media bahwa pemerintah akan memberlakukan batas emisi lebih ketat lagi untuk kendaraan bermotor. “Kabar ini tentunya merupakan berita baik dan peluang bagi biofuel berbasis sawit untuk meramaikan pasar bahan bakar nabati di Negeri Panda ini,” tandas Mukti. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit