infosawit

RSPO & Copenhagen Business School, Lakukan Riset Lambannya Serapan Minyak Sawit Berkelanjutan



RSPO & Copenhagen Business School, Lakukan Riset Lambannya Serapan Minyak Sawit Berkelanjutan

InfoSAWIT, JAKARTA – Guna mengetahui musabab lambannya penyerapan minyak sawit berkelanjutan (CSPO), lembaga nirlaba multistakeholder Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) memulai sebuah proyek riset bekerjasama dengan Copenhagen Business School. Riset ini akan dipimpin oleh Dr Kristjan Jespersen.

Dari Informasi yang didapat InfoSAWIT, riset ini akan berfokus pada potensi intervensi ekonomi perilaku sepanjang rantai nilai minyak sawit berkelanjutan, lebih dikenal sebagai "nudging."

Untuk mengidentifikasi peluang praktik nudge untuk meningkatkan serapan dan partisipasi dalam RSPO, pihak peneliti tutur Jespersen, diawali dengan mempersempit ruang lingkup pekerjaan dengan fokus pada pasar strageis yang memiliki tingkat permintaan minyak sawit, seperti Cina.

Riset ini akan dimulai dengan data dan catatan yang ada pada operasi RSPO guna mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan. Pada saat yang sama, serangkaian wawancara dengan anggota RSPO, seperti pihak perusahaan yang ada didalam  rantai pasokan minyak sawit, serta staf Sekretariat RSPO yang akan memberikan wawasan tentang bagaimana organisasi ini beroperasi, apa yang saat ini dan calon anggota perusahaan inginkan darinya, dan apa hambatan utama mencegah terjadinya partisipasi.

“Kami percaya bahwa dengan menyelidiki seluruh rantai pasokan dalam konteks nasional yang berbeda, dan mengidentifikasi berbagai jenis intervensi, temuan kami akan mengarah ke potensi, serta menyoroti hambatan lain yang mungkin layak diperhatikan dalam program lain dari pekerjaan RSPO yang terkait dengan serapan,” tutur Jespersen, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, belum lama ini.

Sementara itu, teori "nudge" ditekankan oleh CEO RSPO, Datuk Darrel Webber, November tahun lalu, pada Konferensi Tahunan Roundtable Tahunan ke-15 tentang Minyak Sawit Berkelanjutan (RT15) di Bali, Indonesia.

Kata dia, mengubah perilaku banyak orang  itu tidak mudah, sama seperti isu-isu seputar perubahan iklim dan minyak sawit berkelanjutan. “Jika kita ingin mengubah masyarakat, kita jelas perlu mengubah cara kita terlibat dengan para pemangku kepentingan, dan kita harus menemukan cara agar kita dapat 'mendorong' mereka ke arah keberlanjutan dengan cara yang hampir otomatis atau tidak sadar,” katanya saat RT15 lalu. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit