infosawit

SAWIT BUTUH KOLABORASI UNTUK CAPAI KONSENSUS BERSAMA DALAM SUSTAINABILITY



SAWIT BUTUH KOLABORASI UNTUK CAPAI KONSENSUS BERSAMA DALAM SUSTAINABILITY

Perkebunan kelapa sawit Indonesia, membutuhkan adanya konsensus bersama sertifikasi sustainability yang dibutuhkan usahanya. Pasalnya, kebutuhan pasar ekspor akan minyak nabati yang kian pesat, sejalan dengan produksi minyak sawit mentah (CPO) yang terus membukit. Alhasil, sertifikasi CPO dan produk turunannya, menjadi bagian dari pertumbuhannya.

Sejak tahun 2003 silam, usaha kelapa sawit sudah mengenal adanya sertifikasi keberlanjutan, yang semula digagas bersama produsen, peritel, manufaktur, investor/perbankan, pedagang, Lembaga Swadaya masyarakat (LSM) sosial dan lingkungan. Keberadaan multi pihak itulah, yang menggagas lahirnya Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sebagai organisasi nirlaba internasional.

Berdasarkan catatan InfoSAWIT, dua organisasi besar pengusaha perkebunan kelapa sawit, juga tercatat sebagai penggagas lahirnya RSPO. Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (GAPKI) dan Malaysian Palm Oil Association (MPOA), sebagai organisasi kelapa sawit besar, yang sejak semula ikut melahirkan organisasi nirlaba RSPO.

Lahirnya RSPO, secara bertahap mulai melahirkan berbagai diskusi dan ide keberlanjutan yang terus mengalir. Hingga, tahun 2008 silam, mulai diterapkannya, prinsip dan kriteria RSPO untuk menyertifikasi kebun sawit dan pengolahannya hingga pabrik turunannya. Bagi yang berhasil lulus, akan mendampuk label keberlanjutan, yang mendapatkan simbol trademark RSPO.

Sejak 2008 silam itulah, dikenal istilah Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) atawa minyak sawit bersertifikat berkelanjutan, ala RSPO. Seiring berjalannya roda organisasi, berbagai mekanisme perdagangan CSPO juga mulai dilakukan, dari perdagangan kertas sertifikasi, hingga penyerahan langsung produk berlabel trademark RSPO.

Geliat organisasi RSPO sendiri, mengalami berbagai dinamika pertumbuhan. Sebagai organisasi nirlaba internasional, RSPO kian dikenal masyarakat luas dan berhasil menjadi entitas akan minyak sawit keberlanjutan. Setidaknya, pasar Uni Eropa dan Amerika Serikat, sudah menjadikan trademark RSPO, sebagai salah satu syarat dalam perdagangan minyak sawit global.

Sertifikasi ISPO Jadi Panutan

Paska hengkangnya Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) tahun 2011 silam, berbagai diskusi nasional digelar untuk menjadikan standar keberlanjutan sebagai bagian dari pertumbuhan industri kelapa sawit nasional. Lantaran, tahun 2009 silam, Indonesia telah memiliki sertifikasi Indonesia Palm Oil Sustainable (ISPO) yang berlaku secara mandatori.

Tepatnya tahun 2013 lalu, Pemerintah Indonesia berhasil  . . . .


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit