infosawit

ORANGUTAN ALBA MASIH RENCANA KE HUTAN, 4 ORANGUTAN, LEBIH DAHULU KEMBALI KE HUTAN ALAM LIAR



ORANGUTAN ALBA MASIH RENCANA KE HUTAN, 4 ORANGUTAN, LEBIH DAHULU KEMBALI KE HUTAN ALAM LIAR

Ketika pelepasliaran orangutan Albino bernama Alba pada awal tahun 2018 silam, masih sebatas rencana. Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), awal April lalu, sudah kembali melepasliarkan sebanyak 4 individu orangutan kembali ke hutan.

Bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Tengah, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) Kabupaten Katingan, dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) melalui program USAID Lestari.

Kolaborasi para penggiat lingkungan di Provinsi Kalimantan Tengah ini, merupakan pelepasliaran orangutan yang ke 9 di TNBBBR, sehingga menambah jumlah orangutan yang dilepasliarkan menjadi 79 individu di kawasan nasional tersebut. Pelepasliaran ini, juga didukung Blue Bird Group dan Save the Orangutan (STO).

4 individu orangutan yang dilepasliarkan terdiri dari 1 individu jantan berusia 13 tahun bernama Meong, dan 3 betina bernama Hayley (13), Nabima (18) dan tari (5). Ke 4 orangutan ini, telah menjalani proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng dan telah memiliki keterampilan dan perilaku yang memenuhi syarat hidup mandiri.

4 individu orangutan dibawa dari Nyaru Menteng melalui perjalanan darat dan sungai selama 10 sampai 12 jam ketitik-titik pelepasliaran di TNBBBR. Setelah dilepasliarkan, orangutan akan di pantau penuh setiap hari selama dua bulan. Berikutnya, pemantauan akan dilakukan 2 jam/hari selama satu tahun lamanya.

CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite mengatakan hingga saat ini, lembaganya masih menerima bayi - bayi orangutan yang ditangkap dan dipelihara manusia. “Sejak Januari lalu, sudah ada 4 orangutan baru yang kami terima di dua pusat rehabilitasi orangutan kami, Samboja Lestari dan Nyaru Menteng, tempat kami merawat sekitar 600 orangutan saat ini. Kami sangat menghargai semua laporan dan temuan dari masyarakat, namun ini juga berarti masih banyak orang tidak menganggap serius konsekuensi hukum akibat memelihara orangutan.

Kepala BKSDA Kalimantan Adib Gunawan menambahkan, bahwa semua pihak harus memahami bahwa memburu, menangkap, memelihara,dan memperjual belikan orangutan ataupun satwa liar yang dilindungi lainnya adalah melanggar hukum dan harus dihentikan. Ia menekankan pentingnya upaya konservasi orangutan.

“Saat ini masih ada ratusan orangutan yang berada di pus

 


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit