infosawit

4 Strategi Pengembangan Kelapa Sawit Untuk Lebih Terarah



4 Strategi Pengembangan Kelapa Sawit Untuk Lebih Terarah

InfoSAWIT, BOGOR -  Kendati potensi maasalah masih ada dengan beragam cara pemerintah telah melakukan perbaikan, dikatakan Direktur Utama PT Pegadaian (Persero), Sunarso, pengembangan sawit kedepan dibutuhkan strategi yang mumpuni, lantaran dengan penerapan strategi ini pengembangan sawit akan lebih terarah dan terukur keberhasilannya.

Paling tidak dalam pandangan mantan Wakil Direktur Utama Bank BRI Periode 2015-2017, penerapan strategi itu perlu dilakukan sehingga semua stakeholder memiliki peran yang sinergis dalam mengembangkan perkebunan kelapa sawit kedepan.

Tercatat kata Sunarso, ada empat strategi yang harus diterapkan, pertama, kejelasan tata ruang nasional yang diterjemahkan dalam tata ruang propinsi secara detail dan disiplin. Dengan kejelasan ini maka masalah karut marut perijinan  kelapa sawit di lahan kawasan akan bisa diselesaikan dengan baik.

Sebab selama ini data kebun sawit berada di dalam kawasan belum bisa diketahui secara pasti, lembaga pemerintah pun tidak bisa memastikan berapa besar luasannya. Dengan penetapan tata ruang telah membuka areal abu-abu yang selama ini terjadi. “Serta kedepan tidak ada lagi tumpang tindih perizinan dan kebun sawit di kawasan,” kata Sunarso dalam acara tersebut yang dihadiri InfoSAWIT.

Lantas kedua, partisipatif dengan melibatkan petani sebagai subyek. Cara ini untuk memangkas ketimpangan yang sudah ada, sehingga perolehan lahan dan pemebrian bantuan dari pemerintah bisa menyeluruh dirasakan masyarakat dalam upaya pengembangan perkebunan kelapa sawit kedepan.

Ketiga, integrasi hulu-hilir, sayangnya  hingga saat ini belum ada integrasi yang baik dari hulu hingga hilir, ini nampak dari primbangan jumlah pembiayaan kedua sektor tersbut yang masih timpang. Kendati semenjak 2011 lalu sektor hilir terus digenjot oleh pemerintah dengan menerbitkan regulasi dan insentif yang mendukung, namun pada kenyataannya belum bisa mendorong pengembangan sektor hilir.

Lambatnya pengembangan sektor hilir ketimbang sektor hulu bisa dilihat dari besaran kredit yang dikucurkan pada kedua sektor tersebut. Tutur Sunarso, kredit pembiayaan sawit tahun 2017 di sektor hulu tercatat telah mencapai  Rp 332,7 triliun, sementara kredit pembiayaan di sektor hilir baru mencapai Rp 94,8 triliun. “Artinya pengembangan sektor hilir masih belum begitu besar,” kata Sunarso.

Sebab itu kedepan, pengembangan sektor hilir harus dilakukan apalagi dengan terus bertambahnya produksi minyak sawit di Indonesia butuh pasar baru yang mampu menyerap produk minyak sawit yang sangat besar. Potensi serapan tinggi itu ada pada pengembangan sektor hilir di Indonesia. Tidak saja untuk membuka pasar baru, sektor hilir juga menjadi penyeimbang dalam pergerakan harga minyak sawit di dunia. (T2)

Terbit pada majalah infoSAWIT Edisi Maret 2018

 

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit