infosawit

IndonesiaTekankan Anggota G20 Tidak Lakukan Proteksionisme Berlebih Produk Pertanian



IndonesiaTekankan Anggota G20 Tidak Lakukan Proteksionisme Berlebih Produk Pertanian

InfoSAWIT, MAR DEL PLATA- Para Menteri anggota G20 yang membidangi perdagangan dan investasi baru saja menyelesaikan pertemuan di Mar del Plata, Argentina, pada Jumat lalu (14/9/2019) lalu. Pada pertemuan tersebut, para Menteri bertukar pikiran terkait upaya mengurangi ketegangan perdagangan global dan proteksionisme, yang dikhawatirkan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi dunia. Delegasi Indonesia dipimpin Staf Khusus Bidang Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan Indonesia Lili Yan Ing,

Pertama, para Menteri mendiskusikan upaya mendorong rantai nilai global (global value chains/GVCs) di sektor pertanian (agro-food). Secara umum negara anggota G20 sepakat akan pentingnya peningkatan perdagangan produk pangan pertanian dalam GVCs untuk menjamin ketersediaan pangan dan meningkatkan keterlibatan petani, UMKM, dan perempuan dalam rantai tersebut.

Pada kesempatan ini, delegasi Indonesia mengemukakan pentingnya peran G20 dalam merumuskan kebijakan global terkait GVCs produk pangan pertanian, mengingat G20 merepresentasikan 80% perdagangan produk pertanian dunia. Indonesia juga menekankan pentingnya negara-negara G20 untuk tidak melakukan proteksionisme, penerapan standar berlebihan, dan pemberian subsidi besar-besaran terhadap produk pertanian yang akan berdampak pada distorsi pasar.

Negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) mengangkat isu ketidakseimbangan perdagangan saat ini yang disebabkan oleh subsidi bagi industri domestik (industrial subsidies), pemaksaan transfer teknologi yang dianggap melanggar Hak Kekayaan Intelektual (intellectual property right) dan subsidi oleh Badan Usaha Milik Negara (state owned enterprises), dan mengusulkan WTO untuk fokus pada isu-isu tersebut.

Sedangkan negara berkembang seperti Brasil dan Afrika Selatan, mengemukakan pentingnya perlakukan khusus bagi negara berkembang untuk berkompetisi.  Sementara Indonesia terbuka bagi diskusi perluasan mandat WTO sepanjang diperlukan untuk membuat fungsi WTO lebih baik lagi, dan selama tidak bertentangan dengan kepentingan nasional.

“Di saat yang sama, Indonesia juga mengingatkan bahwa masih terdapat pekerjaan rumah yang belum diselesaikan WTO, seperti subsidi di bidang pertanian (agricultural subsidies) dan pengaturan penangkapan ikan yang selama ini ilegal, tidak terdaftar, dan tidak diatur (ilegal unreported and unregulated fishing),” ujar Lili dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (20/9/2018).

Kedua, para Menteri juga sepakat untuk membahas New Industrial Revlolution (NIR). Pada pembahasan NIR, Indonesia mendukung diskusi yang dilakukan G20 untuk memberikan komunitas global kemampuan beradaptasi dengan potensi disrupsi yang ditimbulkan oleh NIR, serta memaksimalkan NIR untuk kemajuan dan kesejahteraan dunia. Para Menteri G20 menggarisbawahi pentingnya pembahasan ini dan diharapkan dapat diteruskan pada pertemuan-pertemuan berikutnya. “Saat ini perdagangan tidak hanya meliputi perpindahan barang, jasa, dan modal, akan tetapi meliputi juga perpindahan “ide atau pemikiran”. Ke depannya talenta dan keterampilan semakin menjadi lebih penting dibandingkan faktor produksi lainnya,” imbuhnya.

Ketiga, pembahasan utama pertemuan tersebut adalah memastikan G20 memberikan dukungan penuh pada sistem multilateral yang ada saat ini, yaitu organisasi perdagangan dunia (WTO), agar dapat berperan dan berfungsi secara utuh. G20 juga menekankan bahwa tindakan unilateralisme –atau menerapkan kenaikan tarif secara sepihak dapat menurunkan perdangangan internasional dan pada akhirnya menghambat perekonomian dunia. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit