infosawit

Sertifikat Sawit Berkelanjutan, Bisa Ubah Perspektif Buruk Sawit di Eropa



Sertifikat Sawit Berkelanjutan, Bisa Ubah Perspektif Buruk Sawit di Eropa

InfoSAWIT, BERLIN – Dalam pemeparannya, Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia dan anggota Advisory Board Andgreen Foundation, Bayu Krisnamurti pada Palm Oil Seminar 2018: One Century of Indonesian Palm Oil di KBRI Berlin, Jerman, mengungkap fakta Jumlah populasi dunia saat ini adalah 7,3 miliar jiwa dan pada tahun 2050 diprediksi akan meningkat menjadi 9,7 miliar.

Peningkatan populasi ini tentu akan berdampak pada penyempitan lahan. Saat ini satu hektar lahan rata-rata dihuni oleh 4,5 jiwa. Dengan peningkatan populasi pada tahun 2050 akan terjadi pula peningkatan penghuni sekitar 6,5 jiwa per hektar lahan.

Minyak sawit merupakan komoditas pangan dengan produktivitas tinggi tanpa memerlukan lahan yang luas. Untuk memproduksi 1 ton minyak sawit hanya memerlukan 0,26 hektar lahan. Bandingkan dengan minyak canola (rapeseed) yang memerlukan 1,25 hektar, minyak bunga matahari (sunflower oil) memerlukan 1,43 hektar, dan minyak kedelai (soybean oil) memerlukan 2 hektar lahan.

Sementara dikatakan Project Director dari Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (Masyarakat Kerjasama Internasional Jerman), Daniel, munculnya persepsi negatif yang berkembang di masyarakat Eropa mengenai minyak sawit dipicu dari masalah kebakaran hutan, pengeringan lahan gambut, dan konservasi keanekaragaman hayati.

Dia menjelaskan, Minyak sawit merupakan komoditas serba guna. Tanpa disadari, masyarakat Eropa mengonsumsi minyak sawit yang menjadi salah satu bahan pembuat produk cat, ban kendaraan, lilin, cairan pembersh juga kosmetika.

“Tantangan saat ini adalah bagaimana mengubah persepsi tersebut salah satu jawabannya adalah dengan meningkatkan sistem sertifikasi minyak sawit sehingga 100% produk minyak sawit yang masuk ke pasar Eropa sudah tersertifikas,” katanya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, belum lama ini.

Minyak sawit merupakan satu satunya komoditas nabati yang telah mewajibkan mendapatkan sertifikat berkelanjutan ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) sebagai pelengkap RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan SCC (Supply Chain Certification). (T3)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit