infosawit

Harga Buah Sawit Petani dan Kenaikan Nilai Tukar Dollar



Harga Buah Sawit Petani dan Kenaikan Nilai Tukar Dollar

InfoSAWIT, JAKARTA - Pelaku perkebunan kelapa sawit, memang mendera penderitaan yang berkepanjangan, apabila harga jual CPO terus mengalami fluktuasi penurunan harga. Terlebih bagi petani kelapa sawit nasional, kejatuhan harga, menjadi penderitaan kesekian kalinya dalam kehidupannya.

Paska distorsi harga jual TBS akibat pengenaan Bea Keluar dan pungutan CSF (CPO Support Fund) yang diambil BPDP-KS. Kembali harga jual panen TBS petani, mengalami pukulan telak, akibat turunnya harga jual di pasar internasional, yang dijadikan sebagai referensi harga jual TBS nasional. Akibatnya, harga jual hasil panen petani berupa TBS, juga ikut tertekan.

Seperti yang dirasakan petani kelapa sawit asal Kalimantan Timur, bernama Ali (54), yang telah menekuni pekerjaannya sebagai petani kelapa sawit selama lebih dari 10 tahun. Menurutnya, hasil kerja kerasnya melakukan budidaya kelapa sawit hingga pemanenan, terasa sia-sia. Lantaran, hasil panen TBS yang dihasilkan, tidak mendapatkan harga jual yang menguntungkan.

Dengan mengelola kebun sawitnya seluas 2 hektar, hasil panen yang didapatnya setiap bulan, rata-rata sebanyak 2,8 ton. Biasanya, harga jual TBS yang didapatnya sebesar Rp 1500/kg. Sehingga pendapatan kotor  yang diterima setiap bulannya sekitar Rp 4.200.000. Dengan pendapatannya itu, dia masih harus membayar orang yang membantu mengurus kebunnya, menghidupi seorang istri dan kedua anaknya yang masih bersekolah tingkat SMP dan SD.

Namun, pendapatannya bulan lalu, menurun drastis, lantaran harga jual panen TBS yang didapatnya hanya sebesar Rp 1100/kg. Alhasil, pendapatan Ali hanya sekitar Rp 3.080.000. Rendahnya pendapatan Ali, sangat terasa dalam kehidupan keluarganya. Pasalnya, beban hidup yang harus ditanggungnya, membutuhkan dana setiap bulannya sebesar Rp 4.000.000.

Kehidupan sederhananya, telah membantu dirinya selalu menabung, kelebihan uang yang biasanya diterima setiap bulannya. Lantaran, harga jual TBS sedang turun, maka keberadaan uang tabungan yang dimilikinya, berperan besar dalam membantu dirinya dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menilik kehidupan Ali sebagai petani kelapa sawit, memang sering menjadi gambaran umum akan kehidupan petani kelapa sawit yang seringkali “jatuh bangun” akibat harga jual TBS yang cenderung fluktuatif. Gambaran Ali, bisa saja, menjadi gambaran bagi kehidupan petani kelapa sawit, yang sebagian besar masih mengalami kesulitan hidup.

Jika Ali, masih bisa menabung ketika hasil panen yang didapatnya berlebih. Namun, banyak pula petani kelapa sawit yang berubah konsumsi hidupnya, ketika hasil jual panennya berlebih. Di sisi lain, kejadian jatuhnya harga jual TBS di kemudian hari, akan menjadi dilema baru bagi kehidupannya. Tak jarang, banyak petani kelapa sawit yang kemudian menyerah dan terpaksa menjual kebun sawit miliknya.

Sejatinya, kejatuhan harga jual di pasar internasional, tidak terlalu banyak berpengaruh, terhadap keberadaan CPO di pasar dunia. Lantaran, CPO masih tetap menjadi primadona pasar minyak nabati dunia. Di sisi lain, CPO merupakan produk asli Indonesia yang dihasilkan melalui nilai Rupiah, sehingga tidak banyak mengalami perubahan nilai produksinya.

Industri minyak sawit yang tergolong dalam usaha produksi Rupiah dan menjual Dollar, juga ikut mendapatkan “windfall profit” dalam bahasa sederhananya keuntungan tambahan berupa naiknya nilai tukar Dollar terhadap Rupiah. Artinya, penurunan harga jual CPO di pasar internasional, seharusnya tidak serta merta berpengaruh terhadap harga jual TBS. (Editorial)

 

Terbit pada Majalah InfoSAWIT Edisi Agustus 2018

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit