infosawit

Pelabelan Bebas Minyak Sawit Bentuk Perebutan Pangsa Pasar Konsumen



Pelabelan Bebas Minyak Sawit Bentuk Perebutan Pangsa Pasar Konsumen

InfoSAWIT, NUSA DUA –Pietro Paganini dari John Cabot University, Roma, mengatakan, berdasarkan hasil riset yang dilakukan, pelabelan bebas minyak sawit  pada produk makanan di Uni Eropa (EU) muncul akibat adanya ketakutan mengenai minyak kelapa sawit yang banyak dicitrakan berbahaya. Semua ini, menurut Pietro , karena masalah reputasi.

Reputasi negatif tentang kelapa sawit ini terbentuk karena kekuatan dari pelabelan. Seperti diketahui, pelabelan sebenarnya berfungsi sebagai alat pemasaran dan periklanan yang berhubungan dengan perilaku manusia, serta tren yang sedang berlaku. “Bicara mengenai minyak kelapa sawit, maka akan berbicara mengenai perang iklan, promosi, dan pangsa pasar,” katanya dalam acara Konferensi Minyak Sawit Internasional 2018 dan 2019 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, yang dihadiri InfoSAWIT, Jumat (2/11/2018).

Jika ada label “free from”, konsumen biasanya akan merasa lega dan akan membeli produk tersebut. Pasar biskuit dan makanan manis lainnya di Italia, serta negara EU yang lain saat ini berada di kondisi yang matang, terfragmentasi, dan sangat agresif. Karena itu, menurutnya, adanya perang untuk memperebutkan konsumen dan pangsa pasar membutuhkan adanya alat pemasaran baru yang lebih kuat.

Di industri makanan sendiri, menurut Pietro, adanya label “no palm oil” dilakukan untuk tujuan komersial, terutama untuk diferensiasi pasar dan gerakan “palmwashing”. “NGO memiliki peran yang sangat signifikan dalam kampanye ini,” katanya.

Sebagai bukti, antara tahun 2016 hingga awal 2018 terdapat perang yang sangat besar melawan minyak kelapa sawit. Banyak berkembang argumen yang mengatakan bahwa minyak kelapa sawit berbahaya karena memiliki kandungan lemak yang tinggi, banyak terkontaminasi, dan sangat karsinogenik. Yang jelas, menurutnya, argumen-argumen tersebut seringkali dibuat meskipun secara ilmiah belum terbukti.

Kampanye tersebut, menurutnya, menyebabkan terjadinya penurunan impor minyak kelapa sawit untuk makanan sebesar 18%. Penggunaan minyak sawit sebanyak 70% untuk produk makanan dan 33% untuk produk non makanan.  “Yang manarik ialah saat reputasi kelapa sawit menurun, terdapat kenaikan penjualan sebesar 12,9% terhadap barang yang berlabel “bebas kelapa sawit”, yakni, pada tahun 2017 dan 13,5% pada tahun 2016,” kata Pietro. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit