infosawit

Tangan Dingin Planters Sawit



Salah satu planters sawit (kiri) sedang memberikan arahan mengeai penggunaan pupuk untuk kebun sawit kepada petani (kanan).
Tangan Dingin Planters Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Terkesan pengembangan perkebunan kelapa sawit hanya terjadi lantaran bantuan pemerintah yang terjadi semenjak periode tahun 1989 sampai 1990-an. Dengan munculnya skim bantuan pengembangan Perkebunan Sawasta Besar Nasional (PBSN), didukung dengan bantuan pendanaan dari Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI). Bahkan pada saat itu dibantu pula dengan proses perijinan pembukaan lahan sangatlah mudah, wajar bilamana beberapa perusahaan perkebunan swasta besar bisa memperoleh lahan hingga ratusan ribu ha.

Dari catatan InfoSAWIT, pengembangan perkebunan kelapa sawit juga mulai digandeng dengan pengembangan perkebunan kelapa sawit milik petani. Dengan munculnya beragam skim kemitraan, seperti misalnya PIRBun, PIR-trans, Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA) hingga Revitalisasi  Perkebunan  (Revitbun). Pada era ini justru mendongkrak kepemilikan lahan sawit oleh petani dengan sangat pesat.

Namun demikian, pembukaan lahan sawit untuk perkebunan kelapa sawit besar tetap masih yang terluas. Merujuk catatan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia telah seluas 14,03 juta ha dimana seluas 7,7 juta ha dikelola perkebunan kelapa sawit swasta besar atau sekitar 55% dari total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Lantas disusul luas perkebunan kelapa sawit yang dikelola petani sebanyak 5,6 juta ha atau sekitar 40% dan terakhir perkebunan kelapa sawit yang dikelola perusahaan perkebunan pelat merah sejumlah 710 ribu ha atau sekitar 5%.

Luasnya pengembangan perkebunan kelapa sawit yang dikelola perusahaan swasta besar, tercatat bukan hanya terjadi lantaran dukungan investasi dari para pemilik modal dan pihak pemerintah selaku regulator. Faktanya dan terkadang hampir terlupakan, pengembangan perkebunan kelapa sawit nasional memiliki pertumbuhan pesat tersebut pula ada campur tangan para planter (pekerja kebun).

Tanpa planter, pengembangan perkebunan kelapa sawit nasional tidak akan bisa mencapai pada kejayaannya saat ini. Lantaran, diakui atau tidak membangun perkebunan kelapa sawit bukanlah perkara mudah.

Dengan lokasi rata-rata ada di pedalaman (remote area), tidak sedikit areal perkebunan kelapa sawit itu mesti ditempuh cukup sulit dengan jalan darat. Apalagi infrastruktur jalan di daerah yang masih terbilang belum semulus di wilayah perkotaan.

Etos kerja dan profesionalisme para planter menjadi salah satu kunci pengembangan perkebunan kelapa sawit bisa begitu cepat. Merujuk catatan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), sampai tahun 2030 diprediksi, total pelaksana di perkebunan kelapa sawit yang mencakup, karyawan pelaksana, mandor lapangan, asisten kebun (staff), asisten kepala, dan manager kebun bisa mencapai 6,37 juta orang, dengan kebutuhan tenaga kerja hingga 2,05 juta orang. Angka ini tidak meliputi Direksi, Keuangan & Administrasi.

Sementera untuk pekerja di sektor pengolahan kelapa sawit (pabrik), mencakup manager pabrik, asisten manager, karyawan dan staf laboratorium, pada tahun 2030, diperkirakan mencapai 111.128 orang, dengan kebutuhan penambahan tenaga kerja sebanyak 41.637 orang. 

Dengan demikian jelas, planter tidak lagi bisa dianggap remeh, dengan luasan lahan perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonsia maka planter menjadi jantung bagi berjalannya operasional perkebunan kelapa sawit nasional. (T2)

Terbit pada Majalah InfoSAWIT  cetak Edisi September 2018

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit