infosawit

Kementan Dukung Perlindungan Perkebunan



Kementan Dukung Perlindungan Perkebunan

InfoSAWIT, JAKARTA - Guna mendukung peningkatan produksi dan produktivitas komoditas perkebunan berkelanjutan, Direktorat Perlindungan Perkebunan telah melakukan kegiatan dalam rangka penanganan OPT dan Non OPT, serta pengembangan desa organik berbasis komoditas perkebunan.

Untuk penanganan OPT eksplosif telah dibentuk Brigade Proteksi Tanaman (BPT) sebanyak 31 unit dan Regu Pengendali OPT (RPO) sebanyak 61 unit di 31 provinsi dengan personil yang telah dilatih dan dilengkapi dengan kendaraan operasional, serta sarana pengendalian OPT (Alat Pelindung Diri (APD), knapsack sprayer, power sprayer, mist blower, fogger). BPT terdiri dari 10 orang personil dari Dinas Provinsi/Kabupaten. Satu regu RPO terdiri dari 10 orang petani/perwakilan kelompok tani yang berada di lokasi kawasan pengembangan komoditas perkebunan yang sudah membentuk LEM atau lokasi yang telah ditetapkan oleh BAPPENAS sebagai daerah miskin atau yang sudah mengikuti pelatihan SL-PHT.

Dari informasi yang didapat InfoSAWIT belum lama ini, penanganan OPT  endemis pada pusat-pusat serangan OPT di sentra pengembangan komoditas perkebunan, telah dilakukan aksi gerakan pengendalian OPT pada komoditas kakao di Provinsi Sulawesi Tengah, NTB, Aceh, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat seluas 2.525 Ha; OPT kopi di Provinsi Jawa Barat, Bengkulu, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan seluas 1.325 Ha;  OPT karet di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi seluas 400 Ha; OPT kelapa di Provinsi Sulawesi Utara seluas 300 Ha; dan OPT tebu di Provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur seluas 475 Ha. Agar   pengendalian OPT lebih luas, gerakan pengendalian didukung oleh Dinas yang membidangi Perkebunan Provinsi dan Kabupaten, Pemerintah Daerah (Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, dan Desa), UPT Pusat lingkup Direktorat Jenderal Perkebunan (BBPPTP Medan, Surabaya, Ambon, dan BPTP Pontianak), dan Perguruan Tinggi (UNTAD Palu, UNSIMAR Poso, STIPI YAPI Bone, UNSTRAT Manado,  UPN Surakarta, Universitas Borneo Tarakan, Universitas Dumoga Kota Kotamobagu) serta masyarakat setempat.

Direktorat Perlindungan Perkebunan juga mengemban amanat Nawacita berupa Pengembangan Desa Pertanian Organik berbasis komoditas perkebunan yang tersebar di 155 desa, di 23 Provinsi, dengan 8 jenis komoditas binaan yaitu kopi, kakao, teh, kelapa, aren, lada, pala, dan jambu mete. Saat ini kegiatan telah sampai pada tahap pendampingan untuk sertifikasi sebanyak 121 desa dan tahap sertifikasi sebanyak 34 desa, dengan potensi poduksi masing-masing komoditi yaitu kopi 163 ton, gula aren 23 ton, jambu mete 23 ton, kakao 165 ton, pala 18 ton, teh 43 ton, lada 7 ton dan kelapa 5 ton.

“Untuk produk-produk organik ini telah mulai dilakukan penjajagan pasarnya dengan launching ekspor gula serbuk  kelapa, gula serbuk aren dan kopi dengan nilai Rp. 14,3 milyar.  Beberapa pasar potensi yang akan menjadi tujuan ekspor dari produk organik antara lain negara Polandia, UK, Newzealand, Italia, Philipina, Thailand, Saudi Arabia dan Switzerland,” kata Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Bambang, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Jumat (9/11/2018).

Sementara untuk pemasaran produk pertanian organik juga dilakukan melalui pengembangan digitalisasi perdagangan (E-Comers). Pengembangan E-comers mulai dilakukan pada petani kopi dan kelapa di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta petani aren di Banten. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit