infosawit

SAWIT DONGKRAK KESEJAHTERAAN PETANI



SAWIT DONGKRAK KESEJAHTERAAN PETANI

TAK MEMILIKI PENDAPATAN TETAP DAN TINGKAT EKONOMI MASYARAKAT YANG MASIH SANGAT RENDAH, MERUPAKAN CERITA LAMA YANG TELAH DITUTUP. LANTARAN KINI DENGAN KEHADIRAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT JUSTRU MENGUBAH KONDISI MASYARAKAT, DAN BERPOTENSI MENINGKATKAN KESEJAHTARAAN

Awalnya kebanyakan dari masyarakat di Desa Muara Pantun, merupakan desa pemekaran dari Desa Jak Luay, Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur, kerap menjadi pencari kayu, ikan dan bertani sayur-sayuran. Pendapatan pun terbatas bahkan acap kurang bila tidak ada yang membeli hasil bumi yang mereka hasilkan. “Pendapatan minim bila hasil ikan dan sayuran yang dihasilkan tidak ada yang membeli,” tutur Mulyadi kepada InfoSAWIT belum lama ini.

Lebih lanjut tutur pemuda 38 tahun asli Desa Muara Pantun, penghasilan dari mencari kayu hanya maksimal sekitar Rp 1.500 per hari, kala itu kehidupan masyarakat di desa masih sangat memprihatinkan.

Untungnya, tutur Mulyadi yang juga adalah Sekretaris Koperasi Karya Baru, pengembangan perkebunan kelapa sawit itu masuk ke wilayahnya baru sekitar tahun 2007 lalu. “Kami memperoleh informasi dari pihak perusahaan akan ada pengembangan perkebunan kelapa sawit di desa kami,” katanya bercerita.

Sontak informasi tersebut membuat Mulyadi dan masyarakat desa memiliki kembali kepercayaan untuk bisa mengubah nasib, apalagi sawit berdasarkan cerita dari tetangga desa lainnya diyakini bakal memberikan pendapatan yang lebih menjanjikan.

Selain sawit tutur Mulyadi, sebelumnya masyarakat juga telah ditawari untuk mengembangkan industri kehutanan, namun lantaran belum diketahui manfaat pasti dari industri tersebut, maka saat itu masyarakat sepakat untuk lebih menerima pengembangan perkebunan kelapa sawit. “Kami pilih sawit untuk jangka panjang,” katanya.

Saat ini pengembangan kelapa sawit seolah tidak bisa terbendung, banyak dari masyarakat yang sebelumnya tidak tertarik untuk membudidayakan perkebunan kelapa sawit, mulai banyak yang beralih memilih membudidayakan perkebunan kelapa sawit selepas melihat keberhasilan para petani sawit yang sudah terlebih dahulu mengembangkan komoditas tersebut.

Kata Mulyadi, sebagai generasi muda di desanya, sepakat untuk menjadi pelopor guna terus mendengungkan bahwa kelapa sawit adalah pilihan terbaik bagi masyarakat desa Muara Pantun.

Hasilnya, bagi masyarakat yang tidak memiliki plasma akibat terlambat bergabung, namun memiliki lahan garapan mulai mengganti lahan tersebut menjadi perkebunan kelapa sawit secara mandiri.

Demikian pula bagi Mulyadi, selain memiliki lahan kemitraan di Desa Muara Pantun seluas 2 ha, pula memiliki lahan garapan seluas 8 ha. Lahan tersebut akhirnya diganti Mulyadi menjadi areal perkebunan kelapa sawit secara mandiri (swadaya).

Namun lantaran memiliki keterbatasan dana dan akses ke pabrik kelapa sawit maka, Mulyadi pun sepakat untuk melakukan kemitraan swadaya dengan model bant . . . .


. . . untuk selengkapnya dapat di baca di majalah infosawit di infosawit store atau berlangganan.

infosawit