infosawit

Memperkuat Beleid Harga Sawit Rakyat



Memperkuat Beleid Harga Sawit Rakyat

InfoSAWIT, JAKARTA - Ketimpangan konsumsi dan produksi minyak nabati di dunia, memang menjadi persoalan klasik yang selalu timbul di dunia. Lantaran, peningkatan konsumsi selalu bertumbuh diatas 10% setiap tahunnya, sedangkan produksi hanya berkisar 6% tiap tahun bertumbuh. Adanya selisih peningkatan pertumbuhan dan permintaan itulah, yang sering menjadi penyebab naiknya harga komoditi minyak nabati.

Kondisi terbalik juga bisa terjadi pada pasar minyak nabati, sering disebut sebagai siklus 10 tahunan, produksi minyak nabati bisa juga berlebih hingga mendekati permintaan ditahun berjalan. Seperti yang terjadi ditahun 2018 ini, dimana keberadaan produksi minyak nabati termasuk minyak sawit, yang produksi nya berlimpah, sehingga menyebabkan harga komoditas turun.

Bagi pelaku usaha minyak sawit, kondisi tahun 2018 ini, sebenarnya sudah diantisipasi sejak jauh-jauh hari. Namun, kerugian besar akibat menurunnya harga komoditas, memang dirasakan para pedagang, terlebih pedagang besar. Pasalnya, harga menurun hampir terjadi setiap saat, sedangkan posisi pembelian produk minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya, mengikuti kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya.

Alhasil, kerugian berlipat ganda, telah melanda para pedagang besar, dimana selisih harga beli dan harga jual menjadi kerugian yang berlipat ganda. Semisal, saat pembelian hari ini, harga CPO sebesar US$ 600/ton, saat menjual harga jual hanya sebesar US$ 580/ton. Adanya selisih kerugian sebesar –US$ 20/ton dikalikan besaran tonase yang dijual.

Besarnya kerugian pedagang besar, sangat memukul keberadaan pedagang besar CPO dan turunannya. Akibatnya, posisi pedagang besar selalu merugi setiap waktunya. Seiring berjalannya waktu, para pedagang besar juga semakin banyak mengalami kerugian. Bayangkan, jika selisih nilai kerugian sebesar –US$ 20/ton x 1.000.000 ton, maka kerugian pedagang yang menjual CPO dan produk turunannya, mengalami kerugian hingga - US$ 20 juta.

Volume perdagangan ekspor CPO dan produk turunannya, dalam periode setahun, bisa mencapai lebih dari 25 juta ton/tahun. Besaran volume ekspor, tentu saja akan berpengaruh besar terhadap kerugian yang dialami pedagang. Semakin besar volume perdagangannya, semakin besar juga jumlah kerugian yang dialami para pedagang.

Sebagai bagian dari pemangku kepentingan CPO dan produk turunannya, para pedagang tentu menurunkan sejumlah kerugian yang dialami kepada pemangku kepentingan lainnya. Dimana, posisi terendah dialami produsen CPO semata alias perusahaan perkebunan kelapa sawit hingga ke petani kelapa sawit.

Harga jual CPO yang tergerus, secara drastis langsung diturunkan hingga kepada harga jual Tandan Buah Segar (TBS) yang dihasilkan petani. Akibatnya, harga jual TBS terjungkal, hingga tak mampu berkutik lagi. Ketidakberdayaan petani, menjadi persoalan berikutnya, lantaran tak ada regulasi pemerintah yang mampu menjamin harga jual minimal hasil TBS petani.

(Editorial Majalah InfoSAWIT Edisi November 2018)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit