infosawit

2019 Industri Sawit Diprediksi Lebih Baik



2019 Industri Sawit Diprediksi Lebih Baik

InfoSAWIT, JAKARTA – Bila tahun 2018 lalu industri kelapa sawit nasional dihadapkan pada beragam masalah, dari melemahnya harga minyak sawit mentah (CPO), hingga larangan penggunaan minyak sawit untuk biodiesel di Uni Eropa, maka di tahun 2019 ini diprediksi bakal membaik.

Dikatakan Direktur Corporate Affairs Asian Agri, M. Fadhil Hasan, pada tahun 2019 ini harapannya bakal lebih baik. Alasannya produksi kelapa sawit akan mengalamin penurunan pada kuartal I 2019. Kondisi ini mendorong stok minyak sawit di Indoensia terbatas.

Belum lagi perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS), yang masih berlangsung cukup memberikan dampak positif bagi peningkatan serapan minyak sawit di negeri Tirai Bambu tersebut.

Adanya perang dagang telah membuat China meningkatkan tarif impor kedelai dari AS, sementara pasokan kedelai China didapat dari Argentina dan Brazil, hanya saja kuota dari dua negara tersebut kurang mencukupi, maka sisanya disubtitusi dengan minyak sawit. “Tapi saat ini negosiasi dagang antara China dan AS terus dilakukan, maka perlu  untuk diikuti, lantaran pasar sawit akan bergantung dari negosiasi tersebut,” kata Fadhil, saat acara Gathering dengan wartawan di Jakarta, yang dihadiri InfoSAWIT, Kamis (31/1/2019).

Lebih lanjut tutur Fadhil, sementara untuk di dalam negeri, sejatinya pemerintah bisa menerapkan kebijakan yang tegas dan konsisten, misalnya mengenai upaya penerapan kebijan Renewable Energy Derective (RED) II dan ILUC yang akan diterapkan pihak Uni Eropa. “Bila kebijakan itu sudah diterapkan maka bisa membawa maslah ini ke dewan WTO,” katanya. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit