infosawit

Pengguna Minyak Sawit Dunia Lacak Deforestasi Lewat Satelit



Pengguna Minyak Sawit Dunia Lacak Deforestasi Lewat Satelit

InfoSAWIT, LONDON - Beberapa pengguna minyak sawit utama di dunia, diantaranya Nestle, Unilever, dan Mondelez, sedang mencoba teknologi satelit baru untuk melacak deforestasi, menyusul munculnya tekanan untuk menggunakan minyak kelapa sawit yang prosesnya bebas dari perusakan hutan (deforestasi)

Cara demikian dianggap akan efektif guna memantau upaya perusakan hutan di negara-negara penghasil minyak sawit seperti Indonesia dan Malaysia. 

Mereka mengatakan sistem pemantauan memungkinkan mereka menargetkan orang menebang pohon di negara-negara penghasil seperti Malaysia dan Indonesia, di mana hutan menyusut, lebih efisien daripada menjaga rantai pasokan di tanah.

“Mereka bilang anda kakak terbesar,” tutur Global Head Of Responsible Sourcing, Nestle, Benjamin, dikutip InfoSAWIT dari Thestar.my.

Dari infomasi pengguna minyak sawit menunjukkan, sistem pemantauan memiliki batasan dan akhir ulasan yang berbeda, dimana mencerminka ketegangan dalam industri saat menangani masalah tanpa jawaban yang mudah.

Beberapa diantaranya mengungkapkan, teknologi itu tidak cukup untuk menghentikan deforestasi - pemantauan itu tidak mencegah. Sementara yang lain khawatir dengan cara memboikot minyak sawit yang tidak berkelanjutan justru hanya mendorong praktik budidaya yang tidak baik di tempat lain.

"Membagi rantai pasokan antara produk yang baik versus yang buruk secara fundamental tidak menyelesaikan deforestasi," kata Global Sustainability Lead For Agricultural Supply Chains at Commodities Trader Cargill, John Hartmann.

Pembeli minyak sawit telah mempermainkan citra satelit selama bertahun-tahun, tetapi sekarang telah meningkatkan penggunaannya saat mereka bergegas untuk memenuhi janji nol deforestasi pada tahun 2020, yang ditetapkan oleh Consumer Goods Forum.

Minyak sawit ini ada dihampir setengah dari semua barang yang dikemas dari cokelat hingga sabun, dan juga digunakan sebagai minyak goreng dan bahan bakar nabati.

Seiring keberlanjutan menjadi lebih banyak kata kunci, merek multinasional berusaha menjaga pembeli agar tidak beralih ke merek pemula yang independen, yang sering kali menggembar-gemborkan kredensial hijau. "Ada lebih banyak kesadaran, orang-orang menginginkan produk yang bersumber secara berkelanjutan," kata analis konsumen dari Liberum, Robert Waldschmit. (T2)

 

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit