infosawit

Menolak Sawit Sama Saja Meningkatkan Deforestasi



Menolak Sawit Sama Saja Meningkatkan Deforestasi

InfoSAWIT, JAKARTA - Produksi minyak sawit tercatat melebihi produksi minyak nabati lainnya, tahun 2017 lalu produksi minyak sawit global diperkirakan mencapai 75,142 juta ton atau 30% lebih tinggi dari produksi minyak kedelai yang hanya mencapai 53,86 juta ton.

Kenapa ini bisa terjadi? Ini terjadi lantaran produktivitas per ha kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lainnya. Rata-rata produktivitas pohon kelapa sawit mencapai 4 ton minyak sawit termasuk minyak kernel/ha/tahun, jauh dibandingkan dengan kedelai yang hanya memiliki angka produktivitas sekitar 0,5 ton minyak kedelai/ha/tahun, atau rapeseed yang mencapai 0,7 ton minyak rapeseed/ha/tahun.

Perlu dipahami bahwa semua produk hasil pertumbuhan tanaman, kayu/serat, daun, buah dan biji, pada wilayah beriklim tropis pasti memiliki produktivitas yang lebih tinggi dibanding tanaman dari wilayah sub-tropis.

Hal ini disebabkan karena pertumbuhan tanaman dihasilkan dari proses photosynthesis. Dimana proses photosynthesis mutlak memerlukan matahari. Di wilayah tropis penyinaran matahari lebih banyak dibanding pada wilayah sub-tropis.

Oleh karena itu, wajar bilamana daur tanaman kayu di Indonesia hanya butuh waktu sekitar 7 sampai 10 tahun, sementara di Uni Eropa memerlukan waktu selama 40 tahun. Kondisi demikian berlaku juga untuk tanaman kelapa sawit, yang memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan kanola dan produktivitas tanaman minyak nabati lainnya. Hanya saja sayangnya, keunggulan ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menciptakan kecukupan pangan dan sebagainya.

Dengan tingkat produktivitas yang lebih rendah tanaman minyak nabati dari wilayah sub tropis bakal membutuhkan areal lahan yang tidak sedikit, sehingga bisa ditemukan fakta bahwa pengembangan budidaya tanaman komoditas minyak nabati menggunakan lahan yang sangat luas. Bisa dibayangkan hasil keluaran emisi karbonnya, yang ditengarai lebih tinggi.

Lantas mengapa justru selalu pengembangan perkebunan kelapa sawit dari Indonesia yang kerap dipersoalkan mengenai kontribusinya dalam menghasilkan emisi karbon? Padahal lahan perkebunan kelapa sawit di dunia hanya mencapai sekitar 20 juta ha, termasuk adanya penerapan skim sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Di Indonesia luas lahan perkebunan kelapa sawit merujuk data Kementerian Pertanian sekitar 14,2 juta ha.

Dimana areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia tersebut merupakan bagian kecil dari luas daratan Indonesia yang di klaim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) seluas 181 juta ha, dengan kawasan hutan sekitar 121 juta ha atau mencapai 67% dari luas daratan.

Coba bandingkan dengan tanaman komoditas kedelai yang luasnya di dunia kini telah mencapai 125 juta ha? Seolah ada pembiaran dan diberikan kebebasan dalam membudidayakannya. Belum lagi tanaman rapeseed dan bunga matahari yang arealnya masing-masing seluas 30 juta ha. (Teguh Patriawan / Wakil Ketua Komite Tetap Pengembangan Perkebunan Kadin Pusat)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit