infosawit

Biodiesel Sawit Menghemat Devisa dan Dorong Kemandirian Energi



Biodiesel Sawit Menghemat Devisa dan Dorong Kemandirian Energi

InfoSAWIT, JAKARTA - Berapa penghematan devisa negara yang bisa didapat dari pengembangan BBN? Berdasarkan data yang ada, tahun 2018 lalu, produksi minyak sawit mentah (CPO) nasional, telah mencapai 46 juta ton dan minyak mentah inti sawit sebesar 4,3 juta ton. Sehingga mampu memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri sebesar 700-750 ribu barrel per hari, terlebih bahan baku minyak sawit yang digunakan, tidak perlu berangka asam (FFA) rendah.

Sebab itu, kebutuhan akan minyak makanan yang membutuhkan FFA maksimal 5%, tidak akan terganggu dengan kebutuhan minyak bahan bakar yang justru membutuhkan FFA lebih tinggi. Sehingga, para pekebun sawit bisa lebih lega dalam memanen kebun sawitnya. Tidak lagi bergantung terhadap tenggat waktu dalam memanen TBS dan menjualnya ke PKS.

Melalui pembangunan Industrial Vegetable Oil atau Industrial Degummed Oil (IVO/IDO), maka sumber bahan baku dari perkebunan kelapa sawit akan membantu banyak pihak, utamanya para pekebun kelapa sawit termasuk para petaninya.

Dari gambaran diatas, amak Indonesia akan menjadi penghasil bio hidrokarbon terbarukan terbesar di dunia. Jika pada tahun 2025 nanti, kebutuhan impor BBM akan meningkat, dapat disubtitusi dengan BBN sebesar 30% dari impor, maka kebutuhan bio hidrokarbon dan biodiesel mencapai 360 ribu barrel/hari, dapat tersedia dari BBN berbahan baku minyak sawit. Secara langsung akan menghemat devisa negara sebesar US$ 25,2 juta per hari atau sebesar US$ 9,2 Miliar per tahun.

Sebab itu, dibutuhkan penggantian bahan bakar sebanyak 30% dari kebutuhan impor BBM yang bisa di subtitusi dengan BBN berbasis minyak nabati. Kondisi sekarang, kebutuhan BBN bisa bersumber dari produksi minyak sawit sekitar 50%. Namun, harus dipastikan juga kebutuhan domestik akan minyak makanan sebesar 20%. Sebab itu, di masa mendatang dibutuhkan lebih banyak pasokan asam lemak dari minyak nabati nasional.

Supaya mampu menghasilkan bio hidrokarbon sebagai BBN, maka Pemerintah Indonesia perlu membuat program dan melakukan implementasi intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan kelapa sawit nasional secara berkelanjutan. Supaya bahan baku dapat tersedia dan tidak terjadi lonjakan harga berarti. Sebab, perlu adanya ketersediaan bahan baku dengan harga beli yang sesuai, untuk dijadikan BBN, salah satunya dapat disuplai melalui dedicated oil palm plantation. (Ketua Umum Ikatan Ahli Biofuel Indonesia /IKABI, Prof. Dr. Tatang S)

 

Lebih Lengkap baca InfoSAWIT Edisi Januari 2019

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit