infosawit

Sawit dan Tudingan Negatif Uni Eropa



Sawit dan Tudingan Negatif Uni Eropa

InfoSAWIT, JAKARTA - Dorongan  penggunaan energi baru terbarukan telah dilakukan semenjak satu dasawarsa silam, bahkan kala itu Uni Eropa tepatnya Belanda sampai memberikan insentif bagi pemasok energi berbahan baku renewable.

Maka sempat minyak sawit menjadi salah satu bahan baku biofuel yang memperoleh insentif. Namun dalam beberapa tahun negara para pengguna minyak sawit sebagai bahan baku energi renewable mulai berpikir ulang, sebelumnya beralasan khawatir bakal mempengaruhi pasokan bahan pangan. Selanjutnya alasan itu beralih ke masalah lingkungan.

Pada tahun lalu, minyak sawit bahkan menjadi sumber bahan baku biofuel yang ditolak di Uni Eropa, lantaran dianggap memiliki kontribusi tinggi terhadap kerusakan hutan (deforestasi). Namun anggapan ini langsung direspon pemerintah Indonesia dan pemangku kepentingan kelapa sawit yang menganggap tudingan itu bias dan tidak sesuai fakta.

Apalagi saat ini beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional sudah menerapkan praktik budidaya berkelanjutan, sesuai skim Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), maupun Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

Adanya kendala perdagangan dan upaya pengereman konsumsi minyak sawit sebagai sumber energi di Uni Eropa, pemerintah Indonesia pun mengambil sikap untuk konsentrasi menerapkan kewajiban (mandatori) penggunaan minyak sawit (FAME) sebagai campuran dari minyak solar.

Kebijakan ini sebelumnya terbit pertamakali tahun 2009 silam, namun mulai diperkuat semenjak dua tahun terakhir dengan penetapan kewajiban campuran 20% biodiesel sawit ke minyak solar dengan brand B20, atau biosolar yang bisa ditemukan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Dalam sebuah hitungan yang dilakukan Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI), pada 2018 lalu produksi minyak sawit mentah (CPO)  telah mencapai 46 juta ton dan sebanyak 3  juta ton minyak inti sawit mentah (CPKO) yang berarti ekivalen 700 – 750 ribu barrel/hari BBM. Jelas Indonesia adalah penghasil biohidrokarbon (hidrokarbon terbarukan) paling besar di dunia!. (Lebih lengkap baca InfoSAWIT edisi Januari 2019)Sawit dan Tudingan Negatif Uni Eropa

InfoSAWIT, JAKARTA - Dorongan  penggunaan energi baru terbarukan telah dilakukan semenjak satu dasawarsa silam, bahkan kala itu Uni Eropa tepatnya Belanda sampai memberikan insentif bagi pemasok energi berbahan baku renewable.

Maka sempat minyak sawit menjadi salah satu bahan baku biofuel yang memperoleh insentif. Namun dalam beberapa tahun negara para pengguna minyak sawit sebagai bahan baku energi renewable mulai berpikir ulang, sebelumnya beralasan khawatir bakal mempengaruhi pasokan bahan pangan. Selanjutnya alasan itu beralih ke masalah lingkungan.

Pada tahun lalu, minyak sawit bahkan menjadi sumber bahan baku biofuel yang ditolak di Uni Eropa, lantaran dianggap memiliki kontribusi tinggi terhadap kerusakan hutan (deforestasi). Namun anggapan ini langsung direspon pemerintah Indonesia dan pemangku kepentingan kelapa sawit yang menganggap tudingan itu bias dan tidak sesuai fakta.

Apalagi saat ini beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional sudah menerapkan praktik budidaya berkelanjutan, sesuai skim Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), maupun Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

Adanya kendala perdagangan dan upaya pengereman konsumsi minyak sawit sebagai sumber energi di Uni Eropa, di Indonesia tetap mengambil sikap untuk konsentrasi menerapkan kewajiban (mandatori) penggunaan minyak sawit (FAME) sebagai campuran dari minyak solar.

Kebijakan ini sebelumnya terbit pertamakali tahun 2009 silam, namun mulai diperkuat semenjak dua tahun terakhir dengan penetapan kewajiban campuran 20% biodiesel sawit ke minyak solar dengan brand B20, atau biosolar yang bisa ditemukan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Dalam sebuah hitungan yang dilakukan Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI), pada 2018 lalu produksi minyak sawit mentah (CPO)  telah mencapai 46 juta ton dan sebanyak 3  juta ton minyak inti sawit mentah (CPKO) yang berarti ekivalen 700 – 750 ribu barrel/hari BBM. Jelas Indonesia adalah penghasil biohidrokarbon (hidrokarbon terbarukan) paling besar di dunia!. (Lebih lengkap baca InfoSAWIT edisi Januari 2019)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit