infosawit

Masih Ada Penolakan Program Biodiesel Sawit



Masih Ada Penolakan Program Biodiesel Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Penggunaan bahan bakar berbasis minyak sawit yang akrab disebut biodiesel sejatinya telah diperkenalkan semenjak tahun 2006 dan dimulai dengan B 5, B 7,  lalu  B 10, B 15.  Sejak September 2018 kebijakan B 20 (campuran Fame ke solar sebanyak 20%) pun diterapkan. Kala itu masih dibedakan antara PSO dan Non-PSO. Tetapi sejak Januari 2019 keduanya tidak dibedakan lagi.

Kapasitas produksi biodiesel saat ini sekitar 12 juta kilo liter. Untuk tahun 2019 solar yang beredar di Indonesia mencapai 34 juta kilo liter. Bila dikurangi sebanyak 20% maka ada kebutuhan biodiesel sebanyak 6,8 juta kilo liter.

Namun  anehnya masih saja ada  penolakan terhadap penggunaan B20. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), MP Tumanggor memberi contoh mengenai angkutan umum, padahal sudah dijalankan tahun 2016.

“Sebelumnya, asosiasi truk juga memprotes padahal sejak 2016 sudah dipakai. Mereka  protes karena kerusakan mesin mobil. Kita menduga, ada yang mendorong mereka mengatakan tidak setuju B20,” kata dia dalam Acara Diskusi Sawit Bagi Negeri yang diadakan InfoSAWIT awal tahun lalu.

Tumanggor mengakui, akan ada orang yang dirugikan karena berkurang impornya dan ada asosiasi kapal mengatakan, pihaknya sudah menggunakan sampai B50, tetapi ada satu asosiasi lain lagi mengatakan dan akan menuntut Pertamina karena penggunaan B20 merusak mesin kapal.

Green fuel ini sesuai dengan kebijakan moratorium untuk menjawab dan merespon tuntutan Uni Eropa untuk industri yang berbasis sawit. Saya harapkan KSP menyampaikan kepada Pak Presiden,” tandas dia. (T1)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit