infosawit

Alasan yang Memengaruhi Harga Sawit



Alasan yang Memengaruhi Harga Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Setelah mengalami penurunan harga minyak sawit semenjak 2017 lalu, harga minyak sawit di tahun babi tanah ini digadang akan membaik, kendati dibayang-bayangi melimpahnya produksi yang dikhawatirkan akan membuat harga kembali melorot.

Dari laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), semenja kajatuhan harga pada Agustus 2016 lalu, harga minyak sawit dunia terus melemah. Kondisi demikian ditambah dengan adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Kajatuhan harga minyak kedelai akibat meningkatnya stok berimplikasi pada harga minyak sawit yang juga mengelami tren melemah. Pada 2015 sejatinya Indonesia telah berinisiatif untuk melakukan pencegahan pelemahan harga minyak sawit dengan membentuk Badan Layanan Umum (BLU), Badang Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), dimana tuga BLU ini mengelola dana  yang dipungut dari setiap ton minyak sawit yang diekspor dan dana yang terkumpul salah satunya digunakan sebagai insentif pengembangan pasar dalam negeri Biodiesel sawit.

Pada awal penerapan, cara demikian dianggap berhasil namun semenjak awal 2018 harga minyak sawit kembali menunjukkan tren pelemahan yang kian dalam, sehingga dalam periode tahun tersebut muncul desakan untuk menghentikan pungutan ekspor awit yang dianggap kian memperdalam kejatuhan harga utamanya harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit ditingkat petani.

Desember 2018, pemerintah mengabulkan desakan tersebut dan membuat kebijakan pungutan ekspor tidak diterapkan bila harga minyak sawit masih dibawah harga US$ 570/ton, sayangnya kebijakan tersebut dianggap akan semakin menekan harga minyak sawit nasional dengan diterapkannya batas bawah.

Memasuki awal tahun 2019, harga sawit tercatat mulai mengalami kenaikan lantaran adanya permintaan dari sejumlah negara konsumen sawit, namun upaya perundingan antara China dan Amerika Serikat patut di waspadai sebab bakal memiliki implikasi terhadap permintaan minyak sawit ke negeri tirai bambu tersebut dan berdampak pada harga minyak sawit.

Lobi Indonesia terhadap pasar minyak sawit India juga sudah mulai dilakukan dan ada potensi mengerek permintaan minyak sawit asal Indonesia. Dengan memahami kebutuhan masing-masing negara, Indonesia dan India, berupaya untuk mensinergikan perdagangan komoditas.

Lantas bagaimana dengan faktor cuaca di 2019? Nah, untuk mengetahui lebih jauh mengenai industri minyak kelapa sawit di tahun ini bisa di baca pada majalah InfoSAWIT edisi Fabruari 2019. (T2)


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit