infosawit

Empat Perusahaan Sawit Dianggap Tak Patuhi Kebijakan Moratorium



Pembukaan lahan oleh PT. Nia Yulided, April 2019
Empat Perusahaan Sawit Dianggap Tak Patuhi Kebijakan Moratorium

InfoSAWIT, BANDA ACEH - Data lapangan terbaru menunjukkan terjadinya kerusakan habitat akibat pembukaan hutan hujan di dataran rendah timur laut Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang meningkat tajam dalam bulan-bulan pertama tahun 2019 ini. Citra satelit dan investigasi lapangan yang dilakukan oleh Rainforest Action Network (RAN) menemukan delapan dari sembilan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Aceh Timur telah melakukan pembukaan lahan dengan secara aktif dengan menebangi hutan di dalam konsesi mereka yang berada di dalam hutan hujan dataran rendah KEL. Sekitar 187 hektar lahan dibuka mulai bulan Januari hingga Maret 2019 menjadikan total 246 hektar hutan hujan rusak hingga April 2019.

“Kita perlu menempatkan kondisi ini ke dalam konteks sekarang: jumlah karbon dunia baru saja tercatat mencapai 412 ppm untuk pertama kalinya dalam sejarah,” ungkap Direktur Kebijakan Hutan Rainforest Action Network (RAN), Gemma Tillack, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, belum lama ini.

Data satelit dari Januari hingga April 2019 menunjukkan bahwa delapan perusahaan kelapa sawit telah melanggar moratorium pemerintah Indonesia tentang pembukaan hutan untuk minyak kelapa sawit dan kebijakan ‘Nol Deforestasi’ dari perusahaan-perusahaan makanan ringan. Kerugian ekologi yang signifikan telah terjadi di enam perusahaan perkebunan yang membuka hutan: PT. Nia Yulided (78 ha), PT. Putra Kurnia (30 ha), PT. Tualang Raya (45 ha), PT. Indo Alam (18 ha), PT. Tegas Nusantara (10 ha) dan perusahaan perkebunan kelapa sawit milik negara PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) I Blang Tualang (10 ha). Sedangkan data satelit dari bulan April 2019 menunjukkan empat perusahaan kelapa sawit terus membuka hutan; PT. Nia Yulided (dari 56 ha meningkat jadi 78 ha), PT. Indo Alam (dari 13 ha meningkat jadi 18 ha), PT. Putri Kurnia (dari 25 ha meningkat jadi 30 ha), dan PT. Tualang Raya (dari 17 ha meningkat jadi 44 ha).

Perusahaan minyak sawit milik negara PTPN I Blang Tualang telah memproduksi TBS yang terbukti memasok pada pabrik kelapa sawit untuk pasar dan merek-merek global, termasuk diantaranya PepsiCo, Unilever, Nestle, Mondelez, Mars, Hershey's, General Mills dan Kellogg's –– seluruh perusahaan ini memiliki kebijakan yang melarang perusahaan-perusahaan untuk memasok minyak kelapa sawit dari lahan deforestasi. Sedangkan perusahaan perkebunan lainnya membuka hutan untuk perkebunan kelapa sawit baru –– memastikan pasokan minyak kelapa sawit di masa depan bisa tumbuh dengan mengorbankan hutan.

“Fakta bahwa perusahaan kelapa sawit tidak sadar, atau tidak patuh terhadap kebijakan ‘Nol Deforestasi’ telah menunjukkan bahwa merek-merek dunia telah gagal untuk menerapkan komitmen mereka secara memadai pada tempat-tempat yang paling penting untuk dilindungi –– salah satunya mencegah ekspansi kelapa sawit di lanskap hutan kritis Kawasan Ekosistem Leuser,” tandas Gemma. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit