infosawit

Sawit di Tahun Babi Tanah



Sawit di Tahun Babi Tanah

InfOSAWIT,  JAKARTA - penurun harga minyak sawit sejatinya telah terjadi semenjak awal 2017 silam kendati masih tercatat ada fluktuasi. Tepatnya bulan Februari 2017 kejatuhan harga mulai terjadi dengan harga terendah sepanjang tahun pada Juli mencapai US$ 662/ton (harga CIF Rotterdam).

Nampaknya tren harga sawit menurun itu terus berlanjut di 2018, dimulai pada Mei 2018 harga selanjutnya terus melorot, dimana dari catatan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), harga terendah terjadi pada Oktober dan November, kondisi demikian berdampak pada menurunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di tinngkat petani yang juga melorot hingga dibawah Rp 1000/Kg.

Dikatakan Ketua Umum DMSI, Derom Bangun, kejadian jatuhnya harga ini dipengaruhi beberapa faktor seperti adanya penurunan permintaan dari beberapa negara dan meningkatnya produksi yang sangat tinggi pada semester kedua tahun 2018. Ditambah dengan adanya perang dagang antara China dan Amerika Serikat, serta munculnya beberapa hambatan regulasi di negara tujuan ekspor minyak sawit asal Indonesia.

Ini mendorong stok di dalam negeri melambung tinggi, kondisi demikian juga dialami Malaysia, sebagai produsen kedua minyak sawit di dunia, sehingga harga semakin tertekan. “Harga CPO penyerahan Rotterdam yang biasanya sekitar US$ 600/ton melorot sampai di bawah US$ 450/ton,” kata Derom kepada InfoSAWIT, belum lama ini di Jakarta.

Derom memprediksi, harga secara perlahan-lahan naik sampai awal kuartal kedua tepatnya bulan April, tetapi kemudian mungkin turun atau bertahan karena produksi mulai meningkat, namun tidak setinggi sebelumnya. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit