infosawit

Praktik Sawit Berkelanjutan Redam Dampak Negatif



Praktik Sawit Berkelanjutan Redam Dampak Negatif

InfoSAWIT, JAKARTA - Diakui beberapa pemangku kepentingan memperoleh keuntungan signifikan dari perdagangan minyak sawit global yang sedang berkembang (petani, investor, dan karyawan), tetapi kelompok lain, seperti pemilik tanah tradisional, mengalami kehilangan tanah dan pembatasan hak penggunaan lahan. Hak Adat Pribumi sering diabaikan ketika perkebunan kelapa sawit didirikan, yang menyebabkan konflik antara penduduk asli dengan orang-orang dari perusahaan.

Selain dampak positif, kelapa sawit juga memiliki risiko menimbulkan dampak negatif. Sebab itu memenuhi tujuan pengurangan gas rumah kaca di Indonesia, melindungi keanekaragaman hayati, dan mengurangi polusi udara dan air, sejatinya bisa dilakukan dengan penegakan hukum yang lebih ketat, serta mendorong pembangunan kebun kelapa sawit baru ke areal yang diijinkan seperti hutan sekunder.

Saat ini telah terbit moratorium ijin sawit, yang seyogyanya menjadi awal bagi upaya perbaikan tata kelola perkebunan kelapa sawit, sehingga bisa terwujud perkebunan kelapa sawit berkelanjutan, dan bisa melakukan pencegahan pengeluaran karbon lebih tinggi.

Demikian juga perlindungan keanekaragaman hayati bisa diterapkan pada setiap pengembangan perkebunan kelapa sawit. Akhirnya praktik terbaik dan budidaya kelapa sawit secara bekelanjutan menjadi kunci untuk meredam potensi dampak negatif yang akan muncul dari pengembangan perkebunan kelapa sawit kedepan. (Faris Maulana Satria, Mahasiswa Jurusan Agribisnis 2015, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran)

 

Lebih lengkap baca InfoSAWIT cetak edisi Februari 2019

 

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit