infosawit

Sawit Diantara Kebutuhan dan Dorongan Skim Berkelanjutan



Sawit Diantara Kebutuhan dan Dorongan Skim Berkelanjutan

InfoSAWIT, OSLO – Dalam sebuah acara yang diadakan kedutaan besar di Oslo, Norwegia, Penasihat Politik Menteri Lingkungan Hidup dan Iklim Norwegia, Marit Vea, mengungkapkan, Pemerintah Norwegia bukan melarang masuknya produk minyak sawit dari Indonesia. Tetapi apakah sudah dihasilkan melalui appropriate approach. “Kami akui minyak sawit sangat penting bagi perekonomian Indonesia,” kata Vea dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, belum lama ini.

Dengan demikian pemerintah Norwegia hanya perlu memastikan bahwa produk minyak sawit yang masuk dihasilkan melalui sebuah proses yang berkelanjutan. Karena itu, Indonesia dan Norwegia perlu mencari jalan keluar bersama agar industri sawit juga berperan dalam mereduksi emisi karbon dan mengurangi laju deforestasi.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Norwegia, Prof Dr Todung Mulya Lubis, mengungkapkan walau tidak ada pernyataan atau aturan di Kerajaan Norwegia yang melarang masuknya minyak sawit dari Indonesia, namun resolusi parlemen Uni Eropa yang menetapkan kebijakan RED II (renewable energy directive) yang terangkum  dalam Delegated Act telah memasukkan perhitungan ILUC (indirect land use change) dimana minyak sawit dikategorikan berisiko tinggi terhadap deforestasi. Cara demikian dianggap sebagai bentuk baru diskriminasi sawit oleh Uni Eropa.

Todung pun menegaskan dalam sambutannya  sejatinya bahwa Industri sawit memainkan peran penting dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Industri sawit, kata dia, menjadi sandaran kehidupan bagi 20 juta masyarakat Indonesia. Ada 4,2 juta pekerja langsung di sektor kelapa sawit dan 2,4 juta petani sawit. “Kita ingin menegaskan bahwa industri sawit Indonesia memiliki komitmen yang tinggi untuk mencapai keberlanjutan,” kata Todung. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit