infosawit

Budidaya Sawit di Lahan Pasang Surut



Budidaya Sawit di Lahan Pasang Surut

InfoSAWIT, JAKARTA - Lahan pasang surut sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Faktanya pengembangan perkebunan kelapa sawit di lahan ini masih terkendala utamanya pada pengelolaan lahan, kultur teknis maupun pembangunan infrastruktur.

Pasalnya dibutuhkan perencanaan, pengelolaan, pemanfaatan dan penerapan teknologi yang tepat terkait pengelolaan tanah dan air. Berbeda dengan lahan mineral, kondisi tanah di lahan pasang surut memiliki karakteristik yang unik, akibatnya perlu penanganan khusus karena lahan memiliki volume air berbeda disetiap waktunya.

Maka, dibutuhkan pengendalian drainase sesuai kebutuhan tanaman, sekaligus berfungsi sebagai pencegah terjadinya over drainase, untuk menghindari oksidasi pirit secara berlebihan.

Dalam informasi yang didapat InfoSAWIT,  untuk membudidayakan kelapa sawit di lahan pasang surut, sangat penting mengenali kondisi lahan guna mengetahui pupuk apa yang dapat diaplikasikan. Kenali dahulu kondisi lahan dan jenis pupuk. Ini akan berpengaruh terhadap efisiensi pemupukan, perkembangan dan produktivitas tanaman.

Berdasarkan kandungan pirit terdapat 2 jenis tanah di lahan pasang surut yakni typic sulfaquent dan sulfic endoaquept. Perbedaan keduanya terletak pada kedalaman lapisan pirit. Typic sulfaquen memiliki lapisan pirit pada kedalaman sekitar 50 cm dari permukaan tanah, sedangkan tanah sulfic endoaquepts memiliki kedalaman pirit sekitar 100 cm.

Pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit umumnya semakin baik bila lapisan pirit lebih dalam dari permukaan tanah.

Pertumbuhan tanaman dan produksi kelapa sawit pada lahan pasang surut kandungan piritnya ditentukan oleh kualitas kultur teknis, khususnya pengaturan tata air. Pada lahan pasang surut yang memiliki buka-tutup irigasi kurang baik membuat volume airnya tidak stabil, terkadang naik mencapai lebih dari 50 cm dari permukaan air dan kadang pula turun hingga 1,5 m.

Biasanya turunnya kondisi air yang menjadi masalah, sebab di lahan seperti ini tinggi air harus stabil 75 cm, bila tidak pirit yang terdapat pada tanah akan teroksidasi dan beracun bagi tanaman. (T2)

 

Terbit pada Majalah InfoSAWIT Edisi Juli 2010

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit