infosawit

Pengelolaan Industri Sawit Perlu Pendekatan People Re-oriented



Pengelolaan Industri Sawit Perlu Pendekatan People Re-oriented

InfoSAWIT, JAKARTA – Tudingan negatif terhadap minyak sawit Indonesia perlu didorong untuk dilakukannya definisi kesejahteraan sosial tidak dilihat dari dikotomi kepentingan lingkungan dan ekonomi, melainkan juga aspek humanisme-nya.  Keseimbangan ketiga aspek antara ekonomi, masyarakat dan lingkungan harus diperhatikan. Apalagi, persaingan minyak nabati di pasar global, selalu berdampak kepada petani.

"Perlu pendekatan yang lebih people re-oriented dalam mengelola industri kelapa sawit kita," kata Dr. Fransiscus X. Supiarso, yang ditemui usai mempertahankan disertasinya di Universitas Indonesia (UI), belum lama ini.

Pada kesempatan itu Frans Supiarso yang menjadi doktor bidang Kesejahteraan Sosial mengangkat penelitian dengan judul "Analisis Morfogenetik Pemberdayaan dan Kesejahteraan Pekebun Plasma di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

Dari Hasil penelitiannya menegaskan kembali bahwa pola kemitraan petani dan pekebun plasma merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk desa.

Keberhasilan kemitraan jangan dilihat dari meningkatnya pendapatan ekonomi tetapi harus dapat  dilihat dari tiga karakteristik. Pertama, kemitraan harus diukur dari bagaimana social problems dapat dikelola masyarakat. Kedua, sejauh mana kemitraan memengaruhi kemampuan masyarakat dalam memenuhi social needs dan ketiga sejauh mana kemitraan membuka kesempataan untuk peningkataan lebih lanjut.

Dalam penelitian yang ia lakukan, ditemukan bahwa organisasi petani seperti koperasi memainkan peran penting dalam menciptakan kesejahteraan petani. "Tanpa ada koperasi maka tidak ada interaksi pekebun yang menjadi syarat untuk melahirkan kepentingan bersama," ujarnya sambil mengutip pendekatan morfogenetik yang ia gunakan dalam penelitiannya ini. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit