infosawit

2000-2017, Deforestasi Di Kalimantan Melambat



2000-2017, Deforestasi Di Kalimantan Melambat

InfoSAWIT, JAKARTA - Hutan Kalimantan merupakan rumah bagi orangutan, macan tutul, dan gajah, adalah salah satu ekosistem dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Tetapi pada dekade terakhir, pulau terbesar ketiga di dunia yang terbagi antara Indonesia, Malaysia dan Brunei tersebut, ditengarai kehilangan sebagian besar hutannya karena kebakaran, pembalakan liar dan perluasan perkebunan kelapa sawit serta bubur kayu dan kertas. Hanya setengah dari tutupan hutannya yang tersisa hingga saat ini, atau turun sampai 75% pada pertengahan 1980-an.

Ada anggapan perkebunan kelapa sawit sebagai pendorong utama deforestasi di Kalimantan. Apalagi Indonesia adalah produsen utama minyak kelapa sawit di dunia, dimana penggunaannya ditemukan dihampir setiap barang rumah tangga, mulai dari roti, cokelat, hingga shampo. Malaysia adalah produsen terbesar kedua di dunia. Tercatat Indonesia dan Malaysia menguasai 87% pasokan minyak sawit global.

Namun sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah WILEY -Conservation Letters, memunculkan harapan baru untuk hutan di Kalimantan. Dengan menggunakan data selama dua dekade terakhir, para peneliti dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) menemukan bahwa, ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan baik di wilayah Indonesia maupun di Malaysia sebenarnya telah melambat sejak 2012 lalu.

Dalam jurnal tersebut mencatat dengan menggunakan citra satelit, para peneliti mengukur total kehilangan hutan, berapa banyak area perkebunan yang ditambahkan, dan berapa banyak hutan yang ditebang dan dikonversi menjadi perkebunan setiap tahunnya antara tahun 2000 sampai 2017. Acara demikian memungkinkan para peneliti untuk bisa menentukan apakah hutan itu benar-benar dirusak oleh pembukaan perkebunan kelapa sawit dan industri bubur kayu & kertas, atau perkebunan justru dikembangkan diatas  lahan yang telah ditebangi sebelumnya untuk tujuan lain, atau hancurnya hutan akibat kebakaran hutan.

Para ilmuwan menemukan bahwa sebagian besar pengembangan perkebunan, terutama di Indonesia, terjadi di daerah yang telah dibuka sebelum tahun 2000, jauh sebelum perkebunan di budidayakan. Terlepas dari tingginya pengembangan perkebunan pada tahun 2009, tercatat semenjak 2012, ekspansi industri perkebunan sebenarnya telah menurun, kemungkinan besar disebabkan melorotnya harga minyak sawit mentah sejak 2011 lalu. Pada 2017, tren penurunan ekspansi perkebunan, serta pembukaan lahan hutan untuk perkebunan, mencapai tingkat yang terendah sejak tahun 2003.

Tentu saja ini menjadi kabar yang sangat baik, namun upaya guna memastikan masa depan yang berkelanjutan bagi hutan Kalimantan tetap dilakukan. Jika harga minyak sawit naik sebagai bagian dari tren harga komoditas, penerapan peraturan pemerintah dan standar industri menjadi sangat penting. (T2)

Terbit di majalah InfoSAWIT cetak Edisi April 2019


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit