infosawit

Sawit Watch: Pemerintah Mesti Tegas Atasi Karhutla



Sawit Watch: Pemerintah Mesti Tegas Atasi Karhutla

InfoSAWIT, BOGOR -  Fenomena kebakaran hutan dan lahan kembali melanda sejumlah provinsi di Indonesia. Saat ini, 6 dari 18 provinsi yang rawan terjadi kebakaran telah ditetapkan berstatus siaga darurat, diantaranya Kalimantan Barat, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jambi. BMKG sudah memprediksi bahwa musim kemarau di Indonesia akan berlangsung panjang dan potensi untuk terjadinya kebakaran sangat tinggi. Namun hal ini tidak diikuti dengan tindakan pencegahan oleh pemerintah.

Direktur Eksekutif Sawit Watch, Inda Fatinaware mengatakan bahwa upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menangani kebakaran hutan dan lahan, belum optimal. Terbukti sejumlah provinsi langgangan kebakaran hutan dan lahan harus kembali ‘memanas’ di musim kemarau tahun ini. “Padahal kondisi kekeringan ini telah diprediksi dan disampaikan oleh BMKG sejak dari beberapa waktu yang lalu,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada 2015 lalu, masih menyisakan duka bagi bangsa ini. Akibat ulah pihak-pihak yang tak bertanggung jawab serta minimnya tindakan pencegahan, menyebabkan timbulnya sejumlah kerugian. Tak hanya kerugian materil melainkan kerugian moril yang juga harus ditanggung oleh masyarakat Indonesia. “Fenomena ini harusnya menjadi pembelajaran berharga bagi bangsa Indonesia tetapi sangat disayangkan pemerintah gagal mencegah hal ini semakin meluas,” tutur Inda.     

Merujuk data BMKG, sejumlah wilayah seperti Pulau Sumatera di bagian Selatan dan sebagian besar wilayah Kalimantan dan Selatan Pulau Sulawesi memasuki fase puncak kemarau pada Agustus ini”. Jika dihubungkan dengan prakiraan sifat hujan Indonesia 2019, maka wilayah-wilayah yang perlu diwaspadai karena memiliki sifat hujan di musim kemarau yang di bawah normal, yaitu di wilayah Kalimantan Tengah bagian Selatan, Sulawesi Tenggara (Konawe), Sulawesi Selatan (Wajo), Lampung (Lampung Tengah dan Tulang Bawang), Sumatera Selatan (OKU Timur), Jambi (Tanjabtim dan Kerinci), Riau (Rokan Hulu), Sumatera Utara (Padang Lawas dan Padang Lawas Utara), dan Aceh (Aceh Tengah).

Sementara merujuk data NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS), berdasarkan dari pantauan satelit terra dan aqua MODIS (dengan tingkat kepercayaan >= 85%), terdapat 1.148 titik api tersebar di seluruh Indonesia selama periode 1 April – 6 Agustus 2019. Dari data ini dapat dilihat bahwa terdapat lonjakan angka titik api yang ditemukan di bulan Juli, sebanyak 433 titik api. Bahkan lebih parahya, dibulan Agustus yang hanya 6 hari saja, sudah ditemukan sebanyak 421 titik api, angka ini kami yakini akan terus bertambah atau bahkan menjadi bulan dengan jumlah titik api terbanyak, karena melihat puncak musim kemarau yang akan terjadi pada bulan Agustus ini.

Kepala Departemen Kampanye Sawit Watch, Maryo Saputra Sanuddin mengatakan, Korporasi  menjadi salah satu yang perlu menjadi perhatoan, lantaran berdasarkan pantauan sebanyak 54 titik api ditemukan berada dalam kawasan konsesi kebun yang tersebar disejumlah provinsi. “Jangan sampai praktek membakar untuk membuka kebun masih menjadi kebiasaan buruk ‘berkelanjutan’. Perlu dipastikan mekanisme pengendalian kebakaran dapat berjalan sebagaimana mestinya,” tandas dia. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit