infosawit

Lilin Sawit Potensi Pasar Baru



Lilin Sawit Potensi Pasar Baru

InfoSAWIT, JAKARTA - Tren masyarakat dunia yang lebih mengutamakan penggunaan produk berbasis nature pun dirasakan industri lilin. Dengan teknologi yang kian berkembang, lilin kini bisa dihasilkan dari bahan-bahan natural salah satunya kelapa sawit.

Sebelumnya lilin sebagai alat penerangan sejak ribuan tahun lalu hingga awal 1900-an pun hingga kini banyak digunakan untuk keperluan ritual keagamaan atau tradisi suatu bangsa. Kendati lilin tidak lagi menjadi sumber penerangan satu-satunya, tapi bagi sebagian masyarakat lilin masih menjadi sarana penerangan yang romantis lagi religius.

Sejarah mencatat, mulanya lilin dibuat dari tallow (minyak hewan) pada awal masa Egyptian dan Romawi. Kemudian seiring berjalannya waktu, sumber bahan baku lilin berkembang, kini lilin bisa dibuat dari lebah madu (beeswax), bayberry, minyak ikan paus, parafin, dan minyak sawit.

Vice President PT Biolina Trio Sintesa (BTS), Listyani Sidik Darmadi mengungkapkan, alasan banyaknya pengguna palm wax tak lain karena tren dunia yang lebih menyukai penggunaan produk berbasis nature yang lebih sustainable.

Menurutnya, beberapa keunggulan palm wax ini ialah tidak mengeluarkan asap hitam jika dibakar, ramah lingkungan, tahan panas hingga tidak mudah melengkung serta bisa menyala lebih lama.

Dengan dukungan sumber bahan baku kelapa sawit yang melimpah di Indonesia, palm wax yang notabene berbahan dasar stearic acid (turunan minyak sawit-red) bisa bersaing dengan lilin dari bahan baku lainnya.

Bila ditilik dari sisi pasar, produk palm wax cukup berpeluang besar terutama di negara-negara yang mempunyai empat musim. “Negara-negara Eropa, AS dan Australia adalah konsumen terbesar permintaan palm wax,” ujar wanita yang disapa Lani.

Misalnya, masih menurut Lani, oleh orang Eropa lilin dipergunakan tidak hanya untuk hiasan tapi juga digunakan saat malam tiba pada jamuan makan malam. Tujuannya bisa memperoleh suasana lebih romantis dari nyala lilin yang remang-remang.

Tak hanya menyasar pasar luar negeri, pasar dalam negeri pun cukup menjanjikan, tetapi karena pandangan masyarakat Indonesia masih melihat lilin hanya sebagai penerangan dan lebih menyukai produk luar negeri mengakibatkan permintaan palm wax masih sedikit.

Berdasar pengalaman PT Biolina, sebagian besar permintaan dalam negeri ada di kota Jakarta dan Bali, biasanya untuk keperluan wedding event atau hiasan. Bahkan kini tempat-tempat seperti gereja, vihara, dan spa mulai menggunakan palm wax.

Bukannya tidak ada saingan dalam memasarkan palm wax, ketika dirintis PT Biolina tahun 1999, palm wax mesti bersaing dengan lilin dari minyak ikan yang dikembangkan oleh negara-negara Skandinavia.

“Ini adalah kesempatan besar bagi Indonesia untuk terus memperluas pasar palm wax. Meskipun ada pesaing dari Vietnam dan India,” tukas Lani kepada InfoSAWIT.

Namun, dalam mengembangkan palm wax tidaklah mudah. Menurut Lani, dalam membuat palm wax dibutuhkan kreativitas yang terus menerus. Misalnya ada seni mencetak lilin agar tidak lengket. Kemudian cara menaruh sumbu lilin mesti pas agar lilin tidak cepat meleleh. (T2)

 

Terbit pada Edisi Cetak InfoSAWIT Mei 2009

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit