infosawit

Saatnya Plastik Sawit



Saatnya Plastik Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Selama ini produk plastik yang beredar di masyarakat seperti kantong, karung, produk kemasan, mainan dan peralatan rumah tangga merupakan produk yang berasal dari bahan baku berbasis minyak bumi maupun gas. Padahal dalam jangka panjang bahan baku tersebut suplainya terus menyusut dan harganya pun terhitung mahal.

Sehingga tak jarang para produsen plastik mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku tersebut. Sementara konsumsi produk plastic di Indonesia setiap tahunnya terus meningkat. Oleh karena itu, dibutuhkan alternatif sumber bahan baku yang cukup serta akses untuk memperolehnya sangat mudah dan harganya lebih murah.

Bioplastik bisa menjadi salah satu alternatif, pasalnya selain bahan bakunya melimpah di Indonesia, produknya juga ramah lingkungan. Kepala Divisi Rekayasa Bioproses dan Bahan Baru, Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi IPB, Khaswar Syamsu mengungkapkan, semakin meningkatnya kesadaran terhadap lingkungan, serta makin langka dan meroketnya harga minyak bumi sebagai bahan dasar plastik konvensional. Maka prospekpengembangan bioplastik pada masamendatang sangat menjanjikan.

“Negara-negara maju yang sangat perhatian terhadap lingkungan merupakan pasar potensial untuk produk bioplastik. Di satu sisi, Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam yang dapat digunakan sebagai starting material untuk bioplastik,” ungkap Khaswar kepada InfoSAWIT.

Meskipun, masih menurut Khaswar, bioplastik khususnya PHA (Poli Hidroksi Alkanoat) belum banyak diteliti dan dikembangkan di Indonesia. Kalaupun ada, masih pada skala laboratorium dan perlu waktu serta dibutuhkan dana penelitian lanjutan untuk skala pilot project.

Bioplastik merupakan jenis plastik atau polimer yang dibuat dari bahan-bahan biotik seperti jagung, singkong, limbah sawit ataupun mikrobiota. Bioplastik ini terdiri atas beberapa jenis, serta kegunaannya pun cukup luas semisal bioplastik berbasis pati, yang menguasai hampir sekitar 50% pasar bioplastik. Umumnya digunakan untuk bahan kemasan termoplast, diproduksi dari bahan-bahan alam yang mengandung karbohidrat.

Selanjutnya, bioplastik berbasis Asam Polilactat (PLA) adalah bioplastik bening yang biasanya diproduksi dari bahan jagung atau sumber gula alam, umumnya digunakan sebagai bahan kemasan. PLA dihasilkan dari proses fermentasi senyawa-senyawa gula yang diperoleh dari bahan alam. Hasil fermentasi menghasilkan asam laktat yang dipolimerisasi untuk menghasilkan plastik PLA dan siap untuk dibentuk sesuai produk yang diinginkan.

Hasil studi Negri Bossi SpA, Milan, Italy, kebutuhan plastik dunia pada 2009 adalah 507,3 juta pound atau 253.650 ton. Kebutuhan plastik di Asia sekitar 189 juta pound atau 94.500 ton. Sementara sebagian besar masih dikuasai atau disuplai oleh plastik konvensional berbasis petrokimia. “Sehingga apabila harga minyak bumi makin mahal, sementara kebutuhan plastik tidak berkurang, bahkan cenderung meningkat, maka bioplastik mempunyai potensi untuk mengisi pasar plastik konvensional,” kata Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Tjahjono.

Lanjut Tjahjono, potensi bahan baku bioplastik dari limbah sawit cukup besar. Pada saat ini produksi limbah padat tandan kosong kelapa sawit (TTKS) sekitar 18 juta ton/tahun. “Dari TTKS mengandung sekitar 60% selulosa yang dapat digunakan sebagai bahan baku bioplastik. Ditambah lagi dengan limbah padat lain seperti pelepah sawit, batang sawit serta limbah cair pabrik kelapa sawit yang dapat digunakan sebagai media untuk mengembangkan mikroba penghasil bioplastik,” paparnya kepada InfoSAWIT.

Terbit pada Majalah Cetak InfoSAWIT Edisi Oktober 2019

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit