infosawit

Untung Rugi Pungutan Ekspor Minyak Sawit



Untung Rugi Pungutan Ekspor Minyak Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, dalam acara Seminar Minyak Sawit Internasional dan Outlook Harga di Bali, akhir tahun lalu, menganggap satu-satunya kebutuhan dalam program saat ini hanya terdiri dari Biaya Transportasi dan Program Penanaman Kembali.

Akhirnya pemerintah berupaya memperbaiki mekanisme pengumpulan berdasarkan tiga faktor diantaranya pertama, tingkat harga CPO, kedua, perbedaan antara harga MOPS-FAME, lantas ketiga, total jumlah dana yang dikumpulkan oleh BPDP-KS.

Hasil dari koreksi tersebut pemerintah lewat Menteri Keuangan menerbitkan kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 23/Pmk.05/2019 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81/Pmk.05/2018 Tentang Tarif Layanan Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Pada Kementerian Keuangan.

Dalam kebijakan ini memutuskan penerapan kebijakan pungutan ekspor minyak sawit dihentikan sementara sampai Mei 2019, lantas semenjak Juni 2019 akan diberlakukan kebijakan baru dimana pungutan ekspor sawit akan diterapkan dengan pengenaan batas bawah.

Dimana bila harga minyak sawit berada dibawah US$ 570/ton maka pungutan sawit dianggap nol, sementara bila harga berada dikisaran US$ 570 – US$ 619/ton maka pungutan sawit akan diberlakukan secara beragam sesuai dengan jenis layanan dan pos tarifnya dengan besaran dari US$ 5 sampai US$ 25/ton. Lantas, bilamana harga lebih tinggi dari US$ 619/ton maka penerapan pungutan sawit akan diberlakukan dengan besaran antara US$ 20 – US$ 50/ton.

Penerapan kebijakan ini dianggap efektif dalam mengangkat harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit petani yang sebelumnya terus tergerus akibat melemahnya harga minyak sawit dunia.

Dalam riset yang dilakukan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), kebijakan baru pungutan sawit telah membantu mengangkat harga TBS ditingkat petani. Terhitung setelah pencabutan pungutan dana sawit diberlakukan harga CPO lokal dan TBS sawit petani diberbagai daerah mengalami kenaikan, dari data yang dikumpulkan oleh SPKS yang diambil dari 3 provinsi daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia terdiri dari Provinsi Riau, provinsi Kalimantan Barat dan  Provinsi Sumatera Utara, tercatat ada perubahan harga minyak sawit mentah (CPO) lokal antara Rp 1000/Kg – Rp 1.500/Kg.

Misalnya saja pada penetapan harga TBS sawit di Provinsi Sumatera Utara, untuk periode 01 - 12 Desember 2018 harga patokan rata-rata CPO nya mencapai Rp 5.822,56/kg, lantas harga patokan CPO lokal tersebut meningkat menjadi Rp 6.088,80/Kg pada periode selanjutnya sepanjang 12 - 18 Desember 2018.

Sementara untuk Provinsi Riau, pada periode 21 - 27 November 2018 harga patokan rata-rata CPO nya ditetapkan Rp 5.629,80/Kg, yang kemudian meningkat menjadi Rp 6.347,11/Kg pada periode 26 Desember 2018 s/d 8 Januari 2019.

Untuk Provinsi Kalimantan Barat pada periode 01 - 18 Desember 2018 harga rata-rata CPO ditetapkan Rp 4.968,93/Kg lantas menjadi Rp 5.470,75/Kg untuk periode 18 Desember 2018 S/D Januari 2019. “Kenaikan harga CPO lokal ini juga turut meningkatkan harga TBS pada 3 provinsi tersebut,” tutur Sekretaris Jenderal SPKS, Mansuetus Darto kepada InfoSAWIT, belum lama ini. (T2)

Telah terbit pada Majalah InfoSAWIT Edisi Juni 2019

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit