infosawit

Sawit Watch: Perluasan Sektor Pekerjaan Alih Daya Langgengkan Diskriminasi terhadap Perempuan



Sawit Watch: Perluasan Sektor Pekerjaan Alih Daya Langgengkan Diskriminasi terhadap Perempuan

InfoSAWIT, BOGOR - Usulan revisi Undang Undan (UU) No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan kembali sudah bergulir. Pemerintah memandang UU Ketenagakerjaan perlu diperbaharui untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar kerja. Menteri Tenaga Kerja bahkan menyatakan, aturan tenaga kerja di Indonesia bagai kanebo kering. Menteri Tenaga Kerja menyampaikan, perekonomian dunia menginginkan fleksibilitas pasar kerja. Sedangkan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan, revisi UU Ketenagakerjaan menjadi salah satu upaya membangkitkan industry secara nasional. Sawit Watch mencatat, ada beberapa poin revisi yang diusulkan pengusaha, seperti, penetapan kenaikan upah setiap 2 tahun, perluasan sektor pekerjaan alih daya, ketentuan besar pesangon, dan ketentuan masa kerja kontrak.

Direktur Eksekutif Sawit Watch, Inda Fatinaware menentang usulan perluasan sektor pekerjaan alih daya karena tak memberikan kepastian kerja bagi buruh, terutama buruh perempuan di perkebunan sawit. “Kondisi saat ini di perkebunan sawit terjadi eksploitasi terhadap buruh perempuan dalam wujud hubungan kerja prekariat. Buruh perempuan di perkebunan sawit berada dalam kondisi ketiadaan jaminan pekerjaan tetap, mayoritas berstatus harian lepas atau borongan, tanpa perlindungan dari kecelakaan kerja atau sakit yang diakibatkan kerja, pemberian target kerja yang tidak manusiawi, penyelewengan status kerja dan praktik upah di bawah ketentuan,” kata Inda dalam keterangan resmi yang diterima InfoSAWIT belum lama ini.

Sementara itu Spesialis Perburuhan Sawit Watch , Zidane menyampaikan, praktik hubungan kerja lepas terjadi di perkebunan sawit di Indonesia. Buruh harian lepas di perkebunan sawit mayoritas adalah perempuan. Sebagian besar merupakan istri buruh dan masyarakat sekitar perkebunan. “Buruh perempuan dipekerjakan untuk melakukan penyemprotan, pemupukan, pembersihan areal, mengutip berondolan, dan pekerjaan lainnya yang ironisnya tidak dianggap sebagai pekerjaan inti di perkebunan sawit. Mereka dipekerjakan tanpa perjanjian kerja, tidak tercatat resmi di dinas tenga kerja setempat.  Hubungan kerja semacam ini berlangsung lama hingga puluhan tahun, tapi mereka sewaktu-waktu, mereka bisa diberhentikan tanpa kompensasi apapun,” kata Zidane

Lebih lanjut, kata Zidane, perluasan sektor pekerjaan alih daya sebagaimana usulan pengusaha hanya memperpanjang kerentanan buruh perempuan di perkebunan sawit. Perempuan buruh harian lepas selamanya tidak akan pernah menjadi buruh tetap.

“Kami melihat, perluasan sektor pekerjaan alih daya ini melegitimasi diskriminasi terhadap buruh perempuan, melegitimasi pelanggaran atas hak pekerjaan tetap bagi buruh perempuan,” tandas Zidane. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit