infosawit

Sawit Atasi Kebakaran Lahan



Sawit Atasi Kebakaran Lahan

InfoSAWIT, JAKARTA - Kebakaran lahan di Indonesia semakin tahun kian menjadi. Tak hanya daerah setempat yang menjadi berselimut asap, melainkan hingga ke manca negara. Seperti Malaysia dan Singapura, yang melulu terganggu dan berteriak, akibat ulah oknum pembakar lahan.

Membakar lahan untuk menjadikan suatu tempat sebagai ladang, sejatinya merupakan perilaku bangsa Indonesia sejak jaman nenek moyang dahulu. Tradisi berladang dengan berpindah tempat, merupakan tradisi nenek moyang yang melulu mencari tempat pemukiman baru mereka.

HE. Benjamin (2009), dalam bukunya yang berjudul “Perladangan Berpindah : Bentuk Pertanian Konservasi Pada Wilayah Tropis Basah”, menuliskan pola perladangan yang dianut masyarakat luas di daerah tropis termasuk Indonesia, yang memiliki kebiasaan berpindah tempat.

Tak jarang, berpindahnya pemukiman, dengan meninggalkan begitu saja tempat pemukiman sebelumnya, atau mengosongkan suatu kampung, namun bisa saja meninggalkan sebagian komunitas untuk menetap.

Sejak dahulu, keberadaan pemukiman yang suka berpindah, memang menyesuaikan kebutuhan hidup yang mereka butuhkan. Tak jarang, berpindahnya pemukiman tersebut, juga membawa berbagai persoalan di kemudian hari. Seperti, jumlah komunitas yang kian bertambah dan berbagai perbedaan cara membuka lahan kemudian hari.

Penulis Buku “How Blaming Slash and Burn, Farmers is Deforestating Mainland Southeast Asia; Analysis from The East-West” yaitu JM. Fox (2000), juga memberikan gambaran lengkap petani penggarap ladang berpindah, yang melulu melakukan pembukaan lahan baru dengan melakukan pembakaran.

Perilaku komunitas yang suka berpindah tempat ini, masih bisa terasa di kehidupan dewasa ini. Terlebih di daerah-daerah pelosok yang masih terdapat hutan belantara. Kehidupan komunitas ini, masih jauh dari peradaban sosial, seperti pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Bisa saja, pola pembakaran yang sudah turun temurun ini, masih dilakukan hingga saat ini.

Sebab itu, pendidikan secara luas, menjadi kunci jawaban dari berbagai persoalan pembakaran lahan dan hutan, yang hingga kini masih sering terjadi. Keterlibatan masyarakat di sekitar lokasi, juga memegang peranan besar, guna mengantisipasi dan mencegah kebakaran supaya tidak meluas dan membesar.

 

Perkebunan Kelapa Sawit Bisa Jadi Solusi

Berbagai cerita yang didapatkan InfoSAWIT diatas, menggambarkan kesulitan hidup diberbagai daerah pelosok, tak hanya pulau Sumatera dan Kalimantan saja, bahkan meluas hampir keseluruh penjuru pelosok di Indonesia. Keberadaan pembangunan yang terkonsentrasi di kota-kota besar, mengakibatkan kesenjangan ekonomi, pendidikan dan kesejahteraan yang kian timpang.

Sejatinya, kebakaran lahan dan hutan bisa terobati dengan sendirinya, bila ada kemauan kuat dari Pemerintah Pusat dan Daerah, untuk melakukan pemerataan pembangunan. Pembangunan yang merata dapat membangkitkan kemampuan survival masyarakat di daerah pelosok untuk berdikari secara nyata.

Ketika kemampuan survival kian mapan, maka kegiatan berusaha bisa dilakukan secara mapan. Seperti kedua daerah diatas, secara arif melakukan pembagian lahan adat dengan bijaksana, dimana sebagian untuk pemukiman, sebagian untuk berladang dan sebagian lagi masih terjaga sebagai hutan adat.

Memang kegiatan berladang yang mereka lakukan kini beralih kepada perkebunan kelapa sawit, dimana pembangunan kebunnya juga melakukan afiliasi dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Alhasil, keberadaan kebun sawit mereka juga merata terbangun dengan baik sehingga berkelanjutan. Masyarakat desa juga membentuk koperasi petani yang beranggotakan masyarakat adat, dengan pola pembagian hasil panen yang juga merata. Jika semua dilakukan secara adil dan merata, maka hasil yang didapat masyarakat adat pula merata. Itulah tawaran solusi dari perkebunan kelapa sawit.

Sehingga pola pembangunan masyarakat desa dapat dilakukan dengan berkeadilan sosial bagi seluruh masyarakat desa. Desa adat terjaga, kemampuan ekonomi meningkat, sosial dan lingkungan menjadi sejahtera, sebab itu hutan adat tetap lestari dan semuanya jadi berkelanjutan.

Sejatinya, solusi ini pernah digunakan Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor,  saat dia masih menjabat sebagai Bupati Kutai Timur lima tahun silam, ”Dahulu, daerah ini selalu mengalami kebakaran lahan, sekarang sudah berkurang bahkan hampir tak pernah terjadi lagi. Masyarakat desa bahu membahu bersama perusahaan perkebunan kelapa sawit kembali menghijaukan lahan hutan yang sudah gundul, dengan membangun perkebunan kelapa sawit,” lebih lanjut, dia mengatakan,”Kini masyarakat desa menjadi lebih sejahtera, berkat panen tandan buah segar sawit yang berhasil didapat, masyarakat hidup lebih baik dan menjadi sejahtera”. (T1)

Terbit Pada Majalah InfoSAWIT Cetak edisi Oktober 2015

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit