infosawit

Peranan Penting Praktik Sawit Berkelanjutan



Peranan Penting Praktik Sawit Berkelanjutan

InfoSAWIT,  JAKARTA - Walaupun kata sustainability, kerap masih terdengar asing ditelinga kita, namun sesungguhnya keberadaan sustainability sudah banyak dirasakan perkebunan kelapa sawit nasional.

Hampir seluruh perkebunan kelapa sawit, yang mampu membangun perekonomian masyarakat pelosok nan terpencil menjadi daerah berkembang dan maju, sejatinya sudah melakukan prinsip dan kriteria sustainability itu sendiri.

Keberadaan sustainability secara konseptual, memang tidak bisa hanya merujuk kepada satu sumber saja. Namun, secara faktual, sustainability bisa merujuk kepada beberapa aspek terpenting seperti lingkungan dan manusia.

Jika lingkungan sekitar mampu terjaga dan kehidupan masyarakat di daerah sekitar menjadi sejahtera, maka secara nyata prinsip dan kriteria sustainability telah mampu dilakukan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di daerah tersebut. Memang tidak mampu memuaskan semua pihak, namun secara faktual, kesejahteraan yang bersumber dari hasil berkebun kelapa sawit sudah banyak dirasakan.

Menurut aktivis lingkungan yang pernah menjadi Juru Kampanye Hutan Greenpeace, Bustar Maitar, keberadaan perkebunan kelapa sawit, seharusnya didorong supaya tidak terlibat dalam defortasi hutan. Sebab itu, menurutnya, jangan menghentikan operasi perkebunan kelapa sawit. Lantaran, secara nyata, keberadaan perkebunan kelapa sawit telah mampu menyejahterakan rakyat.

Menurut Bustar, keberadaan perkebunan kelapa sawit harus transparan dengan melakukan proses tracebility, sehingga keberadaan perkebunan kelapa sawit dapat terpisah dengan deforestasi hutan yang sangat merusak lingkungan.

Sebab itu, menurut dia, perusahaan perkebunan kelapa sawit harus secara tegas berani menyatakan tidak melakukan deforestasi hutan kepada publik. Greenpeace menurut dia mendapat dorongan dari konsumen minyak sawit dunia, untuk memastikan keberadaan minyak sawit yang berasal dari perkebunan kelapa sawit yang tidak merusak lingkungan. Sebab itu, kata dia, keberadaan Greenpeace sangat penting untuk menyuarakan kepentingan lingkungan di dunia. “Buktinya, ada lima perusahaan besar sawit yang berani melakukan komitmen tidak melakukan deforstasi,” kata Bustar menegaskan.

Keberadaan komitmen tidak melakukan deforestasi hutan yang berasal dari lima perusahaan besar sawit Indonesia ini, juga mendapatkan apresiasi dari konsumen dunia. Bahkan ketika ada himbauan negatif dari Menteri Lingkungan Prancis beberapa waktu lalu, secara tegas, Greenpeace membela produsen minyak sawit dengan menghimbau konsumen untuk menolak ajakan tersebut (Baca: Promosi Sawit Baru Ala LSM, Majalah InfoSAWIT edisi Juli 2015).

Sustainability Jadi Kunci Keberhasilan

Dengan melakukan prinsip dan kriteria sustainability yang cenderung rumit, sejatinya memberikan banyak warna baru dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit dewasa ini.

Prinsip dan kriteria berkelanjutan yang banyak disuarakan organisasi nir laba seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), juga telah banyak yang berhasil di implementasikan.

Tak hanya perusahaan perkebunan kelapa sawit seperti PT SMART Tbk., PT ANJ Tbk, PT Hindoli anak usaha Cargill dan sebagainya, bahkan organisasi petani swadaya seperti Asosiasi Petani Swadaya Amanah, secara nyata turut andil dan sukses melakukannya.

Hingga dewasa ini, Koperasi Amanah, yang beranggotakan 349 Kepala Keluarga dengan luas lahan sebesar 763 hektar, masih tekun melakukannya. Menurut Ketua Asosiasi Petani Swadaya Amanah, Sunarno, keberhasilan melakukan sertifikasi sustainability juga mendapatkan bantuan dari PT Asian Agri dalam melakukan implementasi prinsip dan kriteria sustainability. Hasilnya, proses sertifikasi prinsip dan kriteria sustainability beberapa waktu lalu, sukses mendapatkan sertifikat RSPO. “Kini kebun sawit kami berhasil mendapatkan hasil produksi sebesar 2 Ton TBS per hektar per bulan,” kata Sunarno kepada InfoSAWIT kala itu.

Keberhasilan yang didampuk Sunarno dan teman-temannya, juga mendapatkan bonus  meningkatnya produktivitas hasil panen, dari sebelumnya yang hanya mampu sebesar 1,4 Ton TBS per hektar per bulan, naik sebesar hampir 50% setiap bulannya.

Himpitan sustainability yang gencar dilakukan LSM, secara nyata mampu memberikan rasa “halal” bagi konsumen global yang menggemarinya. Terlebih, harga jual premium, dari melakukan sustainability juga mampu diraih.

Praktek budidaya secara sustainability yang sudah dilakoni Sunarno dan teman-temannya ini, menjadi gambaran nyata akan keberhasilan melakukan prinsip dan kriteria sustainability bagi seorang petani kelapa sawit swadaya di Indonesia. Jika, petani swadaya saja mampu dan berhasil melakukannya, kini giliran kita. Mau Melakukan? (T1)

Terbit pada Majalah InfoSAWIT Cetak Edisi November 2015

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit