infosawit

Memastikan Jalan Sawit Untuk Sumber Bahan Bakar



Memastikan Jalan Sawit Untuk Sumber Bahan Bakar

InfoSAWIT, JAKARTA - Merujuk prediksi British Petroleum (BP), kebutuhan dan permintaan energi di dunia terus meningkat, menyusul bertumbuhnya ekonomi dan populasi. Faktanya kebutuhan energy tidak bisa selamanya dipenuhi dari sumber bahan bakar fosil yang tergolong sebagai bahan bakar tidak renewable.

Misalnya saja kebutuhan energi yang bersumber dari batubara paska tahun 2000-an melorot tajam, sementara kebutuhan minyak fosil dan gas relatif tetap. Kejadian ini lantaran adanya dorongan penggunaan energi ramah lingkungan atau renewable energy yang terus meningkat.

Bagaimana di Indonesia? Faktanya setelah tahun 2000-an tersebut produksi minyak bumi nasional terus tergerus, bahkan pada era tersebut Indonesia telah masuk menjadi negara importir minyak bumi yang sebelumnya sebagai eksportir.

Kondisi ini memacu pihak Indonesia untuk mulai beralih sedikit demi sedikit memanfaatkan energi dari sumber lain yang lebih ramah lingkungan. Lantaran pada saat yang sama Indonesia adalah negera produsen minyak sawit dunia, maka dipilihlah minyak sawit sebagai sumber energi subtitusi minyak solar berbasis fosil.

Dalam pegembanganya, biodiesel sawit sebagai salah satu sumber energi berbasis minyak nabati tidak selamanya mulus, kendala pengembangan terjadi lebih diakibatkan adanya selisih harga biodiesel yang lebh tinggi ketimbang minyak solar yang kala itu masih memperoleh subsidi dari pemerintah.

Namun pada 2015 lalu, saat pemerintah dan pelaku usaha minyak sawit nasional sepakat membentuk Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), pengembangan biodiesel sawit nasional mendapat angina segara. Selisih harga biodiesel (FAME) dan minyak solar diganti oleh BPDP-KS dengan skim insentif.

Kini pengembangan biodiesel sawit tidak hanya untuk memenuhi target pengembangan bauran energi baru dan terbarukan, serta melepas ketergantungan dari penggunaan minyak solar yang lebih banyak di impor lataran lifting minyak bumi nasional terus menurun setiap tahunnya.

Bahkan pengembangan biodiesel tercatat bisa menjadi solusi bagi masih jomplangnya neraca perdagangan nasional. Pada tahun 2018 lalu neraca migas nasional minus US$ 12 miliar, neraca migas yang terus menurun diyakini akibat kebutuhan energi yang terus meningkat di Indonesia sementara produksi terus berkurang.

Sebab itu, dukungan pengembangan biodiesel sawit pun terus mengalir, periode tahun 2017-2018 menjadi penerapan kebijakan wajib penggunaan biodiesel yang dicampur ke minyak solar sebanyak 20% (B20), tahun depan kebijakan campuran itu akan ditingkatkan menjadi 30%.

Banyak pihak berharap dengan penerapan kebijakan biodiesel sawit bakal menjadi jawaban bagi merahnya neraca perdagangan nasional. Namun sayang, pengembangan biodiesel tidak semudah itu, inisiasi pengembangan biorefineri berbasis minyak nabati pun dihembuskan, bukan berarti tidak berpeluang digunakan. Pertamina sendiri sudah melakukan uji coba pengembanga biodiesel dengan cara co processing.

Tercatat keekoomian masih menjadi kendala, lantas apakah pengembangan biodiesel dari FAME dan Hydrogenated Vegetable OiI (HVO) bisa berjalan beriringan? Untuk lebih lengkapnya pembaca bisa melihatnya pada Majalah InfoSAWIT cetak Edisi Juli 2019.


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit