infosawit

Narasi Lingkungan Sawit



Narasi Lingkungan Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia faktanya diikuti dengan beragam isu yang berkembang, baik isu kesehatan maupun lingkungan. Narasi negatif ini seolah menutup semua keunggulan yang dimiliki pohon kelapa sawit yang berkmbang pesat di Indonesia.

Narasi itu dibuat dengan beragam gaya, baik secara tegas maupun menipu. Namun pada kenyataannya saat ini narasi lingkungan sawit itu masuk pada level yang lebih tinggi yakni regulator.

Seperti Uni Eropa yang pada akhirnya menyepakati bahwa kelapa sawit bukan lagi pilihan yang baik untuk pengembangan bahan baku biofuel. Dimana pada 2023 menjadi waktu bagi minyak sawit untuk tidak lagi di gunakan sebagai bahan baku energi terbarukan di Uni Eropa.

Simpel, dalam kasus tersebut bisa menjadi pembuktian bahwa perdagangan komoditas kini tidak lagi terbuka bebas seperti sebelumnya, apalagi komoditas kelapa sawit memiliki beregam keunggulan yang akhirnya mereduksi pengembangan minyak nabati yang dikembangkan di negara-negara penghasil minyak nabati di dunia, utamanya Uni Eropa da Amerika serikat yang merupakan produsen utama rapeseed dan kedelai.

Narasi lingkungan dianggap menjadi cara jitu, lantaran saat ini hanya narasi tersebut yang mampu menghadang laju perdagangan minyak sawit di dunia, dan terlepas dari aturan perdagangan di dunia yang disepakati dalam World Trade Organization (WTO).

Lantas apakah kemudian pelaku sawit di Indonesia diam saja? Tentu saja tidak, pembuktian bahwa kelapa sawit dibudidayakan dengan ramah lingkungan pun dilakukan. Beragam skim ketat yang diterapkan di perkebunan kelapa sawit nasional diadopsi.

Tercatat ada skim budidaya kelapa sawit berkelanjutan versi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), Roundtable on Sustaiable Palm Oil (RSPO) dan International Sustainability & Carbon Certification (ISCC).

Bahkan untuk saat ini Indonesia selain sebagai produsen utama minyak sawit dunia juga tercatat sebagai produsen minyak sawit berkelanjutan (CSPO) di dunia, dari catatan produksi CSPO asal Indonesia per bulan Juni 2019 mencapai 7.819.243 ton, berasal dari sebanyak 195 pabrik kelapa sawit (PKS) bersertifikat. Angka itu, belum memperhitungkan PKS independen.

Sementara untuk skim ISPO, realisasi kebijakan sawit berkelanjutan versi Indonesia sampai bulan Juli 2019, produksi CPO yang telah tersertifikasi ISPO mencapai 11,57 juta ton CPO atau 31% dari total produksi CPO nasional 37,8 juta ton/ha.

Kendati memiliki rekam jejak minyak sawit berkelanjutan dari beragam skim, diakui atau tidak narasi negatif itu akan terus muncul. Sebab itu kedepan pasar ekspor semestinya bukan lagi menjadi tujuan utama, melainkan mulai memperkuat pasar domestik, sekaligus membuka pasar minnyak sawit berkelanjutan yang berpotensi terus terbuka.

Nah, untuk mengetahui seberapa besar pasar minyak sawit berkelanjutan di dunia, pembaca bisa melihatnya pada InfoSAWIT Cetak Edisi Agustus 2019. (T2)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit