infosawit

Tantangan Minyak Sawit dari Uni Eropa



Tantangan Minyak Sawit dari Uni Eropa

InfoSAWIT, JAKARTA - Adanya isu diskriminasi terhadap sawit tidak lain adalah karena Komisi Uni Eropa baru saja mengadopsi kebijakan Renewable Energi Directive II pada 13 Maret 2019 lalu. Kebijakan tersebut diantaranya menuntut penghapusan penggunaan biodisel berbasis sawit karena dianggap memiliki resiko yang tinggi terhadap deforestasi.

Sebenarnmya, bukan hanya masalah deforestasi yang dihasilkan dari aktifitas perkebunan sawit. Namun, didalamnya juga ada isu mengenai pelanggaran HAM, korupsi, hingga memperkerjakan anak dibawah umur.

Namun, hal tersebut dapat dianggap sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh komoditas sawit Indonesia. Apalagi, pada periode tahun 2017, ekspor minyak sawit asal Indonesia berhasil menembus angka US$ 2,97 milyar yang merupakan nilai tertinggi dalam sejarah perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan Uni Eropa merupakan salah satu negara yang permintaan terhadap CPO Indonesia naik sebesar 27%.

Faktanya kebutuhan minyak sawit di dunia terus meningkat seiring dengan upaya untuk melakukan pelambatan berkembangnya pasar minyak sawit di dunia. Sebab itu industri kelapa sawit harus terus meningkatkan kerjasama di seluruh pemangku kepentingan, disamping tetap mendorong penerapan praktik kelapa sawit yang berkelanjutan. Sehingga produksi kelapa sawit layak lingkungan dan sosial. (Nisrina Guzmarani/Fakultas Pertanian, Program Studi Agribisnis, angkatan 2017Universitas Padjadjaran)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit