infosawit

Tiga Negara Produsen Sawit Tak Sepakat Putusan UE



Tiga Negara Produsen Sawit Tak Sepakat Putusan UE

InfoSAWIT, JAKARTA - Indonesia bersama sejumlah negara produsen sawit lainnya semakin gencar melawan praktik diskriminasi penggunaan produk biodiesel atau CPO. Negara-negara produsen minyak sawit memandang rancangan aturan komisi eropa yang mengisolasi CPO sebagai kompromi politis di internal Eropa.

Tiga negara produsen minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) yakni Indonesia, Malaysia dan Kolombia berkumpul untuk merespons diskriminasi yang dilakukan oleh Uni Eropa. Ketiga negara yang tergabung dalam Dewan Negara-Negara Produsen Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC) .

Ketiga negara yang menguasai sekitar 90% produksi CPO dunia tersebut akan mengumumkan pernyataan bersama dalam menanggapi kebijakan Renewable Energy Directived II (RED II) Uni Eropa beserta aturan teknisnya (delegated act) yang dianggap mendiskriminasi CPO dari minyak nabati lainnya sebagai bahan baku bahan bakar nabati (biofuel).

Para Menteri negara anggota CPOPC juga menyampaikan keprihatinan atas kebijakan diskriminatif terhadap CPO yang tertuang dalam rancangan resolusi PBB mengenai Deforestation and Agricultural Commodity Supply Chains yang diusulkan Uni Eropa melalui Majelis Lingkungan PBB.

Negara anggota CPOPC juga menyampaikan keprihatinan atas kebijakan diskriminatif terhadap CPO yang tertuang dalam rancangan resolusi PBB mengenai Deforestation and Agricultural Commodity Supply Chains yang diusulkan Uni Eropa melalui Majelis Lingkungan PBB.

Meski begitu, melihat upaya UE melarang CPO merupakan hal yang sangat wajar. Sebab mereka tidak ingin minyak nabatinya seperti minyak kedelai, minyak babi, dan minyak bunga matahari terganggu oleh sawit.

Sekjen Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Bambang Aria Wisena mengungkapkan, bila dibandingkan minyak nabati lain, sawit punya banyak keunggulan. Mengutip kajian International Union for Conservation of Nature (IUCN), sawit lebih hemat 9 kali lipat dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lain dalam penggunaan lahan. Selain itu kelapa sawit memiliki produktivitas 3,8 metrik ton (MT) per hektare per tahun. Sedangkan rapeseed oil hanya 0,6 MT dan minyak kedelai 0,5 MT per hektare per tahun.     

Bentuk perlawanannya yang dilakukan yaitu secara konsisten berupaya meningkatkan keberlanjutan komoditas tersebut dengan mengeluarkan beragam regulasi. Salah satunya adalah melakukan peremajaan menggunakan bibit yang lebih unggul, sehingga tidak perlu perluasan lahan. Pelaku usaha pun akan melakukan perluasan pasar ekspor sawit melalui negosiasi secara dengan negara importir di luar UE seperti India, Pakistan, Tiongkok dan Afrika.

Tercatat Minyak sawit telah menyerap 7,5 juta pekerja secara langsung dan 12 juta pekerja tidak langsung mulai dari 2011-2018. Belum lagi tambahan 2,6 juta petani rakyat dan 4,3 juta pekerja tambahan.  Sejak tahun 2000, sektor Kelapa Sawit Indonesia telah membantu 10 juta orang keluar dari kemiskinan karena faktor yang terkait dengan ekspansi kelapa sawit dan setidaknya 1,3 juta orang di daerah pedesaan diangkat keluar dari garis kemiskinan secara langsung karena ekspansi kelapa sawit. (Penulis: Rafa Thea Kirana Saufika/ Jurusan Agribisnis 2017. Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran)

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit