infosawit

Menilik Ibu Kota di Sentra Sawit



Menilik Ibu Kota di Sentra Sawit

InfoSAWIT, JAKARTA - Belum lama ini Presiden Joko Widodo sepakat untuk memindahkan ibu kota negara ke wilayah Kalimantan, alasannya sederhana supaya pengembangan ekonomi dan infrastruktur di sana bisa lebih baik.

Kepindahan itu pun disambut beragam pendapat masyarakat di Kalimantan, namun untuk sektor kelapa sawit, kepindahan itu menjadi angin segar bagi pengembangan komoditas strategis nasional tersebut. Apalagi sampai saat ini pengembangan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan masih terkendala dengan infrastruktur yang masih jauh dari memadai.

Tercatat produksi minyak sawit yang berasal dari Kalimatan, khususnya Kalimantan Timur menduduki peringkat ketiga setelah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Merujuk data dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementarian Pertanian tahun 2018, total produksi minyak sawit Kalimantan Timur mencapai 2,4 juta ton, dengan areal Tanaman Menghasilkan (TM) seluas 784 ribu ha.

Dimana luasan Tanaman Menghasilkan perkebunan kelapa sawit yang dikelola masyarakat telah seluas 198 ribu ha, dengan produksi minyak sawit mencapai 613 ribu ton. Apalagi angka ini diprediksi bakal meningkat terlebih komoditas kelapa sawit di Kalimantan Timur menjadi salah satu komoditas yang digandrungi masyarakat setempat, alhasil pola pengembangan kemitraan petani swadaya dan perusahaan perkebunan kelapa sawit pun mulai dilakukan.

Namun demikian selain harapan memajukan ekonomi dan pengembangan komoditas, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terlebih selain sebagai salah satu sumber penghasil komoditas perkebunan, kehutanan bahkan tambang, Kalimantan masih dihadapkan pada beragam isu lingkungan.

Tercatat hutan Kalimantan merupakan rumah bagi orangutan, macan tutul, dan gajah, adalah salah satu ekosistem dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Tetapi pada dekade terakhir, pulau terbesar ketiga di dunia yang terbagi antara Indonesia, Malaysia dan Brunei tersebut, ditengarai kehilangan sebagian besar hutannya karena kebakaran, pembalakan liar dan perluasan perkebunan kelapa sawit serta bubur kayu dan kertas.

Namun sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah WILEY -Conservation Letters, para peneliti Kehutanan Internasional (CIFOR) menemukan bahwa, ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan baik di wilayah Indonesia maupun di Malaysia sebenarnya telah melambat sejak 2012.

Lantas sejauh mana dampak pemindahan ibukota tersebut dalam pengembangan komoditas dan investasi di Kalimantan? Untuk mengetahuinya pembaca bisa melihatnya pada majalah InfoSAWIT cetak Edisi September 2019.

 


. . . Dapatkan majalah infosawit berbentuk digital (e-magz) di infosawit store atau berlangganan.

infosawit